ISOLASI TERPUSAT DI VILLA

 

HARI KETIGA POSITIF COVID.

Sekarang nulisnya gak di kamar sempit lagi dong. :D

Di hari kedua saya covid, saya diangkut dari rumah menuju tempat isolasi terpusat. Awalnya bingung, antara ikut petugas atau isolasi di rumah sama anak - anak. Kalau anak ikut, di tempat isolasi banyak yang positif. Kalau anak gak ikut, neneknya juga lagi pilek batuk. Mukanya udah pucat banget. Tapi gak ngaku sakit.

Saya gak pernah nanyain langsung alesan dia gak mau ngaku. Tapi yang saya tangkep dari omel - omelannya dia, dia mikir kata tetangga. Sedangkan saya mikirin keselamatan si bungsu yang selalu Ia ajak, atau si sukung yang sering minta main sama neneknya.

TIDAK SEMUA KELUARGA SIAP PUNYA PASIEN COVID

 

Tulisan pertama di hari pertama dinyatakan positif covid.

Saya putuskan mati dengan cara ini saja. Mati karena covid.

Harusnya saya makin banyak makan. Orang sakit demam aja dipaksa banyak makan kan? Tapi saya terakhir makan adalah kemarin pagi. Sisanya ngemil-ngemil kecil buat ganjel.

Orang rumah masak seperti biasa layaknya gak ada yang sedang isoman. Sedangkan covid bikin lidah gak bisa merasakan manis dan gurihnya makanan. Yang tersisa hanya pedas dan pahit. Jadi gak semua makanan bisa saya makan. Saya belum terbiasa dengan lidah seperti ini. Bila makanan ga ada rasa pedas dan pahit, saya hanya merasakan tekstur dan suhu makanan tersebut. Beginikan rasanya jadi vegan?

BANK NEO

Bank Neo.. Oh Bank Neo..

Padahal udah dikasi kode, saya malah pilih kode yang lain. Abisnya yang ngasi kode nunjukin dua kode saham bersamaan. Bukannya langsung beli Bank Neo, saya malah milih yang pergerakannya lebih lambat. Itupun mutusinnya makan waktu lama karena budget terbatas.

Perihnya, di obrolan komunitas saham di hari yang sama ngebahas Neo juga. Topik detailnya tentang ngebahas e-commerce yang belum kerja sama dengan bank. Ditelisik, jawabannya adalah Bank Neo. E-Commerce itu diduga Lazada.

Semua info gak diungkapkan blak-blakan biar gak dibilang pom-pom. Jadi nama emiten disembunyikan, biar dicari sendiri. Kecuali saham yang punya cerita kuat, barulah disebut namanya. Kalau saham gorengan, meski menguntungkan, tapi resiko besar, sebisa mungkin gak melibatkan member lain karena riskan. Kalo jago atau hoki, mending. Tapi kalo apes, kan kasian. Jadi malah kaya menjerumuskan.

CENTRATAMA TELEKOMUNIKASI INDONESIA (CENT)

Orang baru yang saya kenal menunjukkan prediksinya tentang saham CENT. Mumpung ada uang dingin tersisa di rekening, saya ikuti. Sayangnya, sekali lagi, karena tidak dibekali ilmu yang cukup, saya membeli saham di harga yang kurang tepat. Ketika saya beli, harganya langsung turun. Saya nyangkut. Uang saya nginep.

Entah kenapa orang ini banyak yang percaya bahkan diundang ke komunitas - komunitas saham untuk jadi narasumber? Padahal dia ini broker di sebuah sekuritas. Kliennya pasti sering komplain karena prediksinya sering salah kaya gini.

TRAGEDI SAHAM BACA

BACA adalah kode saham untuk perusahaan Bank Capital Indonesia. Perkenalan saya dengan saham ini ketika masih pakai akun istri utuk main saham. Soalnya akun saham saya masih gak bisa kebuka. Masih dalam proses reset password dan security question.

Waktu itu saya masih dalam fase nyoba - nyoba trading. Belakangan saya tahu istilahnya adalah scalping, alias nyopet saham. Ketika ada volume transaksi dalam jumlah besar masuk dan keluar pada sebuah saham, kita bisa ikut masuk ke dalamnya. Karena transaksi yang besar bisa menggerakkan harga saham dengan signifikan.

Kala itu saya scalping cuma modal intuisi tanpa ilmu sama sekali. Satu dua saham berhasil saya copet, tapi saya juga sering nyangkut karena belinya di harga tinggi. Ketika saya masuk, bandarnya keluar. Membuat harga turun dan saya teringgal di pucuk membawa barang dengan harga tinggi.

BACA gak sendirian nyangkut di portofolio saya. Ada ADRO. Cuman beruntungnya ADRO keduluan kejual. Saya jual pakai sistem jual otomatis yang ada di aplikasi sekuritas akun istri. Jadi saya gak perlu mantengin saham terus - terusan. Tinggal atur mau jual di harga berapa, kalau sudah masuk di harga itu, sistem akan otomatis melakukannya untuk saya.

Kejual di harga yang gak jauh dari harga beli, setelahnya harga ADRO malah terbang jauh. :|


Mendengar ucapan temen yang juga punya saham yang nyangkut tapi dia diemin, katanya untuk buang sial. Biar jadi prasasti untuk dia inget kesalahan masa lalu dan gak mengulanginya. Saya pun menirunya. Saya matikan order otomatis untuk BACA dan menyimpannya sebagai jimat keberuntungan.

Hingga pada siang ini, salah satu idola saya di dunia saham bikin IG story tentang naiknya harga saham BACA. Dan naiknya seharga saya beli dulu. Saya buru-buru cek portofolio. Gelagapan gara - gara kena panic attack, beberapa kali salah pencet. Harga sahamnya udah gak segitu lagi, dan itu ternyata harga termahal saham BACA hari ini. Kecil kemungkinan akan naik kesana lagi. Saya kehilangan kesempatan ngebuang jimat ini. Peluang yang belum tahu apakah akan terulang lagi?

Apakah saya gak percaya dengan BACA lagi? Bukan. Cuman saya sudah punya 'jimat' lain di portofolio utama akibat gegabah, mengulang kesalahan, hasil dari sebuah proses yang disebut pengalaman,



Dan sambil ngetik ini saya ngecek market lagi, BACA saya sudah kejual dong! Bye BACA. Ada apa denganmu?

SATU MINGGU LEBIH TANPA PENGASUH

Sebenernya saya gak enak ngomongnya karena sebagian orang, mungkin sebagian besar, gak suka sama PPKM. Sama, saya pun tidak. Meski ketidak sukaan kita mungkin oleh alasan yang berbeda. Tapi kali ini saya terbantu dengan pembatasan betaktivitas oleh pemerintah untuk tidak keluar rumah selama pandemi.

Karena memang anjuran dari pemerintah untuk diam di rumah saja, saya tak perlu ijin lagi untuk tidak ke kantor karena harus bantu ibu ngejagain anak-anak. Anak tetangga yang biasa bantu jaga lagi ada acara keluarga. Kurang lebih sekitar dua mingguan, dan semoga abis itu dia mau balik kerja :))

BELI SAHAM DI IPOT A.K.A INDOPREMIERE #DISCLAIMERON


PERINGATAN: TULISAN INI SEBATAS CURHATAN TENTANG PENGALAMAN MEMBUAT AKUN DI IPOT (INDOPREMIERE), BUKAN MENJELASKAN STEP BY STEP MEKANISME DAN PERSYARATAN DI DALAMNYA.

Jadi, setelah puas main di reksadana, saya gatal untuk mencoba hal yang lebih agresif. Saya lompat ke saham.

Guru saya adalah video dari youtube-nya Raditya Dika. Tutorial pertama dan satu - satunya tentang pembuatan saham yang saya tonton dan udah enak banget ngikutinnya, jadi keterusan.

Berhubung bergurunya ke beliau dan di beberapa videonya bekerja sama dengan IPOT, saya ikut main saham memakai aplikasi IPOT juga karena males riset aplikasi lain untuk pembanding.

LAPORAN SEMESTER SATU MENYERANG

 

Akhir semester satu 2021. Artinya, terjangan permintaan laporan-laporan siap menghujam.

Laporan tahun lalu masih ada yang belum selesai, sampel uji profisiensi datang, membuat urusan laporan ini tidak mudah.

Kebiasaan buruk saya selalu muncul ketika keadaan mulai begini.
Tidak mood ngambil kerjaan sama sekali.

Padahal di rumah juga gak bisa saya kerjain. Sampe rumah main sama anak sampai mereka tidur. Saya tetep gak bisa kerja kalau maksain kerja dan ninggalin mereka. Gak tega. Ga fokus. Kasihan saya sama anak - anak.

Setelah anak-anak tidur, waktu saya terbatas dan itu sudah menjadi jatah side hustle saya. Paginya untuk side hustle yang lain. Sekarang pun saya sudah sangat kurang tidur ngerjain ini semua. Saya sampai gak fit di tempat kerja. gak bisa berpikir jelas efek kurang tidur.

Entah bakal kaya gimana kedepannya?

ORANG TUA MENDAPAT VAKSIN ASTRAZENECA


Beda dengan saya yang mendapat vaksin Sinovac oleh pemerintah lewat kantor, bapak dan ibu saya kebagian Astrazeneca oleh desa. Akhirnya mereka dapat vaksin. Saya bersyukur banget mereka mau divaksin, dan gak banyak protes. Hanya bapak yang sesekali kemakan berita di sosial media. Untungnya gak separah orang lain di desa saya.

PENGALAMAN PERTAMA BELI REKSADANA

Jumat minggu lalu kesampaian juga nonton bareng istri lagi sejak sekian lamanya setelah kami menikah, dan selama Covid. Kami nonton Fast & Furious 9. Film yang katanya terlalu gak masuk akal tapi saya sendiri cukup menikmati filmnya. Emang sih udah jauh dari unsur kemanusiawian, tapi anggep aja nonton film superhero.

Sambil nunggu filmnya mulai, yang ternyata mundur setengah jam dari jadwal di tiket dan aplikasi, saya mulai transfer - transfer ke reksadana yang sudah saya pilih.

Pada akhirnya saya membeli reksadana juga. Hal yang saya sudah kenal sejak mendapat buku paket pelajaran ekonomi di SMA. Disana terdapat penjelasan singkat tentang reksadana. Disitu disebutnya masih dana reksa. Cuman saya tidak punya nyali yang cukup untuk mencari tahu lebih dalam, apalagi memulai investasi.

MENULIS SAAT SAKIT

 

Ini adalah postingan pertama sejak 7 hari setelah memperpanjang domain. Harusnya saya stop ngomongin soal domain. Banyaknya tujuan keuangan, namun sumber terbatas, bikin semua urusan yang berkaitan dengan uang memang terasa pedih. Ga tahan buat ngomongin terus.

Okey. Mari kita fokus memperkaya konten di blog ini, ketimbang mikirin uang yang udah keluar, dan akhirnya gak posting-posting.

Sangat menyenangkan ketika tahu kalo blogger bisa upload video tersendiri tanpa harus menautkan link dari Youtube atau memakan kapasitas Gmail kita. Tapi sejak tahu info itu sampe sekarang, blum cukup PD untuk bikin video. Padahal sekarang seringkali saya merasa sudah terlalu capek nulis. Kebetulan side hustle saya juga berkaitan dengan menulis. Jadi pengennya tetep bisa posting blog namun gak ngetik, cuman terkendala teknis. Soon lah ya. Doakan saja.

POSTING GARA-GARA DIINGETIN NOTIF PERPANJANG DOMAIN

 

April adalah bulan yang sibuk. Sebuah project mengharuskan saya marathon semua film nominator Oscar tahun ini. Ini tidak mudah, karena saya lakukan malam setelah pulang atau subuh sebelum berangkat kerja. Itu pun maksimal hanya satu film per hari. Sedangkan saya harus menonton 42 film (seluruh film pendek dalam satu nominasi dianggap satu film).

Idealnya, kalo saya saya nonton 3 film dalam 1 hari, target saya akan tercapai dalam setengah bulan. Sayangnya tidak bisa. Bahkan ketika dapat jadwal WFH, kondisi tetap gak memungkinkan karena sibuk ngajak main si sulung.

MAAF, SAYA JUGA SERING MENGANIAYA SI SULUNG

Sempat muncul di dasbor google tapi tak saya hiraukan. Ada juga yang share di facebook,tapi hanya selewat. Beritanya mirip dengan beberapa kejadian serupa dan saya tak tertarik mengikutinya. Sampai akhirnya hari ini jadwal saya WFO.

Teman menceritakan lagi peristiwa ini. Bahkan dia menunjukkan videonya.

Saya masih tak bergeming. Lalu teman membahas ini ke teman yang lain di ruangan. Deskripsi ceritanya jelas banget. Bikin penasaran. Akhirnya saya mengiyakan.

Video viral penganiayaan pria terhadap anak umur 2,4 tahun. Sebaya anak saya!

GAK (DIANGGAP) DEWASA


Hal yang bikin saya terus dianggep belum dewasa: badan pendek, muka baby face (sebenarnya gak terlalu bayi banget sekarang, udah kusem dan banyak kerut).

Ditambah pola pikir yang gak seperti temen - temen seumuran saya, makin memperparah keadaan ini. Jarangnya saya bersosialisasi dengan orang banyak dan orang baru bikin saya tambah gak dewasa. Jauh dari bijaksana dan kelabakan saat harus menghadapi persoalan orang dewasa.

Cepat panik, baper, lamban, dan tidak kreatif. Dengan semua hal ini saya sendiri ngeri melihat status saya sekarang sebagai ayah 2 anak dan dengan seorang perempuan yang mempercayakan saya sebagai suaminya. Saya tidak bisa bertanggung jawab sebagai manusia.

Saya gak bisa nyari kerja sampingan karena saya lamban dan sulit bergaul.

Saya gak bisa nyetir karena mental saya cetek, megang setir langsung keringetan - lutut lemes. 

Saya juga gak tahu cara berhadapan dengan orang.

Gak bisa ngebenerin hal - hal kecil di rumah berkaitan dengan listrik dan pertukangan.

Orang - orang juga selalu mencemaskan saya, mengkhawatirkan apa yang saya lakuin, dan meng-underestimate saya. Saya makin mengkonfirmasi mereka dengan kecerobohan-kecerobohan yang saya lakuin.

IDEALIS vs OPEN MINDED

 

Setelah menikah dengan istri, saya makin sadar betapa menyebalkannya diri saya.

Sebagian dari kalian akan benci tulisan ini, karena saya akan ngomongin zodiak.

Saya dan istri zodiaknya sama. Melihat dia, kayak melihat diri sendiri. Saya seperti ngaca. Pengen protes, tapi gak bisa, karena sifat saya juga seperti dia. Cara mengambil keputusan pun hampir mirip.

Yang paling berasa itu ketika istri sudah punya pendirian dan rencana. Kaku banget. Sulit sekali diubah. Untungnya, dia tidak ngerepotin orang lain. Dia akan mengusahakan sendiri agar tujuannya terwujud.

Tapi, bila sesuatunya tidak berjalan lancar, dia akan stuck. Diem. Berpikir. Merenung. Hanya saja, waktu terus berjalan. Yang diajak kerjasama gak bisa nunggu lama. Kalopun tetap jalan, kelihatan banget terpaksanya. Saya yang baperan kan jadi gak nyaman.

DIMINTA MASUK ADAT BALI


Berkali - kali saya disuruh masuk adat. Alasannya: karena saya sudah punya tanah di daerah sini.

Sebenarnya ini tidak masalah. Memang seharusnya seperti ini. Bagi yang punya tanah dan ditinggali, harus masuk warga adat. Masalahnya, dari bapak saya, hingga saya punya dua anak seperti sekarang, saya belum pernah terlibat dalam aktivitas adat.

Banyak ketakutam dalam diri saya untuk memulai pertama kali. Saya bukan tipe yang cepat membaur ke lingkungan baru. Belum lagi, dari saya kecil sulit masuk ke karakter masyarakat disini. Saya takut dibully, atau dikucilkan, atau mungkin dimanfaatkan. Menjadi korban.