MASALAH MEMILIH JALAN HIDUP


Akhirnya tiga hari ini berlalu sudah. Kantor mengadakan bimbingan teknis (bimtek) tentang sistem jaminan mutu. Secara garis besarnya adalah tentang gimana memastikan lab menjamin hasil uji yang dikasi ke klien terjamin dan sampai lab berhasil terkareditasi (termasuk cara mendaftar dan syarat -syarat yang harus kantor penuhi).

Saya merasakan penderitaan peserta. Entah kenapa ruangan yang dipakai bimtek cepet banget bikin ngantuk. Untung saya peserta merangkap panitia, jadi ada kesempatan keluar ruangan dengan alesan mau nyiapin logistik acara.

Tugas saya di bimtek kali kedua ini sama dengan bimtek pertama beberapa bulan lalu. Tugas utama saya adalah pembuatan sertifikat. Sisanya bantu di asrod (tukang klik next slide persentasi), dokumentasi kegiatan, nganter konsumsi, bantu bersih - bersih dan cuci - cuci saat bimtek sudah selesai.

Sertifikat tidak bisa saya selesaikan sebelum bimtek dimulai. Nama - nama peserta dan biodata mereka harus saya pastikan benar sebelum dicetak. Jadi harus nungguin mereka hadir di hari pertama, dan mereka memeriksa sendiri biodata mereka ketika registrasi. Itu yang menyebabkan saya gak bisa ikut di setengah jadwal bimtek di hari pertama. Sekalinya hadir di bimtek, udah gak mood karena kelewat info- info penting di jadwal sebelumnya. :p

SAYA PENGEN MATI


Baru saja seorang teman kerja mengeluh tiba - tiba di hari itu Ia kehilangan semangat. Ia bercerita kepada kami bertiga yang sedang duduk mendengar kala itu.

Saya dengan sok tau menerka penyebab dia kehilangan semangat. Saya bilang dia lagi jenuh dengan aktivitas yang padat, gak pernah menyempatkan diri untuk jalan - jalan, terlalu tinggi memasang ekspektasi untuk hidupnya, dan terlalu fokus ingin memenuhi ekspektasi orang lain dan menyenangkan semua orang.

Habis ngebacot sok paling iye, kurang rasanya kalo gak ngasi saran sok bijak. Padahal saya sendiri juga sedang merasakan apa yang sedang Ia rasakan. Bahkan sudah saya rasain sejak bertahun - tahun yang lalu. Sampai sekarang belum sembuh. Malah makin parah.

SAKIT SYARAF


Saya kasihan dengan anak saya. Disaat anak lain menjelang kelahirannya disambut kenaikan penghasilan dari ayah mereka, anak saya harus mensyukuri penghasilan bapaknya yang segitu - segitu saja.

Ditambah penyakit yang saya derita di mata membuat menambah penghasilan jadi makin sulit.

Karena penyakit mata ini, saya tidak bisa bertahan lama dalam satu hari. Dikit - dikit mata saya langsung capek, kaya orang ngantuk, tapi mata juga terasa berat dan gatal.

Saya sudah coba tidur yang cukup. Terlalu cukup malah, sampe bikin pusing dan mual, tapi tetep kepala saya harus ngangguk - angguk karena penyakit mata ini. Sepertinya penyakitnya sudah menjalar ke syaraf.

TERANCAM DIPECAT


Hari ini hari pendek. Pegawai kerja setengah hari. Dan saya malah dateng telat. Amat sangat telat.

Suasana jadi canggung karena temen - temen lagi pada sibuk, tapi saya baru masuk ruangan. Mereka hanya melirik kedatangan saya, lalu lanjut fokus dengan pekerjaan mereka.

Suasana jadi hening. Mereka bekerja dalam senyap. Saya diam seorang diri di pojokan ga ngerti apa yang terjadi. Sumpah ga enak banget. Mau say hello, muka mereka tegang banget seakan di bawah pantat mereka ada orang yang nodongin pistol yang siap meledak kalo mereka meleng dari kerjaan mereka.

Perasaan bersalah membuat saya jadi paranoid. Saya merasa dimusuhi. Ketika mereka tertawa, saya jadi risih sendiri ngerasa kalo tawa mereka sengaja buat nyindir saya. Saya tahu ini hanya pikiran negatif saya. Yaaa namanya juga dihantui rasa bersalah.

Halo, Nak.


Nak, kelak ketika kau lahir, kau akan punya banyak teman seangkatan. Banyak temen bapak dan ibumu juga melahirkan anaknya di tahun ini dan tahun depan. Itu artinya, seharusnya kalian masuk sekolah di tahun ajaran yang sama. Ini bisa baik bagi kami, orang tuamu. Kami akan sering bertemu lalu asik berbicara soal anak - anak yang seumuran, dari sejak kamu lahir hingga kalian sekolah.

Tapi ini bisa berarti buruk untukmu. Mungkin tidak semua anak yang lahir tahun ini akan jadi temanmu. Kelak sainganmu mencari kerja akan amat banyak (sorry bapak ngomongnya kejauhan).

Kamu juga kelak akan dibanding - bandingkan dengan banyak anak seumuranmu. Kalo dibandingin dengan anak yang selisih umurnya terlalu tinggi dari umurnya, kejauhan

Yang kuat ya nak, kita bertiga akan berjuang bersama. Berjuang menahan nyinyiran orang. Berjuang membuktikan kepada orang - orang yang julid tentang kita.