TIDAK SEMUA KELUARGA SIAP PUNYA PASIEN COVID

 

Tulisan pertama di hari pertama dinyatakan positif covid.

Saya putuskan mati dengan cara ini saja. Mati karena covid.

Harusnya saya makin banyak makan. Orang sakit demam aja dipaksa banyak makan kan? Tapi saya terakhir makan adalah kemarin pagi. Sisanya ngemil-ngemil kecil buat ganjel.

Orang rumah masak seperti biasa layaknya gak ada yang sedang isoman. Sedangkan covid bikin lidah gak bisa merasakan manis dan gurihnya makanan. Yang tersisa hanya pedas dan pahit. Jadi gak semua makanan bisa saya makan. Saya belum terbiasa dengan lidah seperti ini. Bila makanan ga ada rasa pedas dan pahit, saya hanya merasakan tekstur dan suhu makanan tersebut. Beginikan rasanya jadi vegan?

Oia, saya isoman di rumah. Pertama: orang tua saya gak mau berita saya menderita covid ini menyebar dan membuat mereka TERSERET ikut swab dan dikarantina juga. Mereka gak rela meninggalkan aktivitas mereka, terutama bapak yang masih bekerja. Padahal feeling saya kuat kalo mereka juga sebenarnya sudah kena. Mereka menunjukkan gejala yang lebih parah dari saya, cuman coba mereka tutupi dan pura-pura hanya sakit biasa.

Ironisnya, saya titipkan anak-anak saya kepada mereka. Saya saja yang sudah vaksin dua kali, sesekali merasa susah nafas akibat covid ini. Saya gak bisa bayangin anak saya yang masih pada bayi kena juga. Penderitaan yang mereka alami akan lebih besar. Dari kemarin saya masih gak kuat memikirkan harus ditinggal mati oleh mereka berdua.

Nayaka, Awya, semoga kalian baik - baik saja dan bisa membaca tulisan ini kelak, perlu kalian tahu kalau kakek - nenek kalian memilih mempertaruhkan nasib kalian demi egosime mereka.

Kedua: istri saya tidak ngasi opsi tempat yang lebih baik. Saya tidak tahu pertimbangannya dia apa. Untuk sekarang saya hanya melihat hal ini karena kecilnya empati di dalam dirinya. Di rumah, saya dan anak - anak masih mengirup udara dari atmosfer yang sama. Ibu yang stay di rumah gak bisa handle saya karena sudah kewalahan ngasuh kedua anak saya. Saya gak bebas keluar, selain karena si sulung pasti nyari saya dan saya juga takut membawa infeksi ke media - media yang saya lewati, apalagi yang saya sentuh. Toh, ketika dia pulang kerja pun dia langsung tidur sama anak - anak, boro - boro ngurusin saya. Terus saya disuruh dengan bebas mondar - mandir keliling rumah ngambil perabotan? Bisa mikir ga sih? Aneh.

Yup, istri saya masih bekerja. Walaupun situasinya mirip dengan kedua orang tua saya, menunjukkan gejala covid. Tapi kembali seperti prinsip bapak-ibu saya: uang lebih penting meski kedua anaknya diasuh oleh kakek nekek yang pesakitan. At least meski ngerawat suami hanya dengan beliin vitamin tapi ngasinya pas pagi hari setelah tidur YANG CUKUP, atau nyuruh makan hanya formalitas, ada pengorbanan lebih gitu lho ke anak - anak. Nanti anak - anak kenapa - napa baru nangis.

Situasi saya tak seberuntung pasien covid lain.

Dan ini adalah wasiat pertama yang saya buat. Menderita covid di keluarga ini udah seperti naruh satu kaki di garis kematian. :))

0 bukan komentar (biasa):

Post a Comment

Jangan lupa cek twitter saya @tukangcolong
Dan channel YOUTUBE saya di
SINI