LAPORAN SEMESTER SATU MENYERANG

 

Akhir semester satu 2021. Artinya, terjangan permintaan laporan-laporan siap menghujam.

Laporan tahun lalu masih ada yang belum selesai, sampel uji profisiensi datang, membuat urusan laporan ini tidak mudah.

Kebiasaan buruk saya selalu muncul ketika keadaan mulai begini.
Tidak mood ngambil kerjaan sama sekali.

Padahal di rumah juga gak bisa saya kerjain. Sampe rumah main sama anak sampai mereka tidur. Saya tetep gak bisa kerja kalau maksain kerja dan ninggalin mereka. Gak tega. Ga fokus. Kasihan saya sama anak - anak.

Setelah anak-anak tidur, waktu saya terbatas dan itu sudah menjadi jatah side hustle saya. Paginya untuk side hustle yang lain. Sekarang pun saya sudah sangat kurang tidur ngerjain ini semua. Saya sampai gak fit di tempat kerja. gak bisa berpikir jelas efek kurang tidur.

Entah bakal kaya gimana kedepannya?

ORANG TUA MENDAPAT VAKSIN ASTRAZENECA


Beda dengan saya yang mendapat vaksin Sinovac oleh pemerintah lewat kantor, bapak dan ibu saya kebagian Astrazeneca oleh desa. Akhirnya mereka dapat vaksin. Saya bersyukur banget mereka mau divaksin, dan gak banyak protes. Hanya bapak yang sesekali kemakan berita di sosial media. Untungnya gak separah orang lain di desa saya.

PENGALAMAN PERTAMA BELI REKSADANA

Jumat minggu lalu kesampaian juga nonton bareng istri lagi sejak sekian lamanya setelah kami menikah, dan selama Covid. Kami nonton Fast & Furious 9. Film yang katanya terlalu gak masuk akal tapi saya sendiri cukup menikmati filmnya. Emang sih udah jauh dari unsur kemanusiawian, tapi anggep aja nonton film superhero.

Sambil nunggu filmnya mulai, yang ternyata mundur setengah jam dari jadwal di tiket dan aplikasi, saya mulai transfer - transfer ke reksadana yang sudah saya pilih.

Pada akhirnya saya membeli reksadana juga. Hal yang saya sudah kenal sejak mendapat buku paket pelajaran ekonomi di SMA. Disana terdapat penjelasan singkat tentang reksadana. Disitu disebutnya masih dana reksa. Cuman saya tidak punya nyali yang cukup untuk mencari tahu lebih dalam, apalagi memulai investasi.

MENULIS SAAT SAKIT

 

Ini adalah postingan pertama sejak 7 hari setelah memperpanjang domain. Harusnya saya stop ngomongin soal domain. Banyaknya tujuan keuangan, namun sumber terbatas, bikin semua urusan yang berkaitan dengan uang memang terasa pedih. Ga tahan buat ngomongin terus.

Okey. Mari kita fokus memperkaya konten di blog ini, ketimbang mikirin uang yang udah keluar, dan akhirnya gak posting-posting.

Sangat menyenangkan ketika tahu kalo blogger bisa upload video tersendiri tanpa harus menautkan link dari Youtube atau memakan kapasitas Gmail kita. Tapi sejak tahu info itu sampe sekarang, blum cukup PD untuk bikin video. Padahal sekarang seringkali saya merasa sudah terlalu capek nulis. Kebetulan side hustle saya juga berkaitan dengan menulis. Jadi pengennya tetep bisa posting blog namun gak ngetik, cuman terkendala teknis. Soon lah ya. Doakan saja.

POSTING GARA-GARA DIINGETIN NOTIF PERPANJANG DOMAIN

 

April adalah bulan yang sibuk. Sebuah project mengharuskan saya marathon semua film nominator Oscar tahun ini. Ini tidak mudah, karena saya lakukan malam setelah pulang atau subuh sebelum berangkat kerja. Itu pun maksimal hanya satu film per hari. Sedangkan saya harus menonton 42 film (seluruh film pendek dalam satu nominasi dianggap satu film).

Idealnya, kalo saya saya nonton 3 film dalam 1 hari, target saya akan tercapai dalam setengah bulan. Sayangnya tidak bisa. Bahkan ketika dapat jadwal WFH, kondisi tetap gak memungkinkan karena sibuk ngajak main si sulung.

MAAF, SAYA JUGA SERING MENGANIAYA SI SULUNG

Sempat muncul di dasbor google tapi tak saya hiraukan. Ada juga yang share di facebook,tapi hanya selewat. Beritanya mirip dengan beberapa kejadian serupa dan saya tak tertarik mengikutinya. Sampai akhirnya hari ini jadwal saya WFO.

Teman menceritakan lagi peristiwa ini. Bahkan dia menunjukkan videonya.

Saya masih tak bergeming. Lalu teman membahas ini ke teman yang lain di ruangan. Deskripsi ceritanya jelas banget. Bikin penasaran. Akhirnya saya mengiyakan.

Video viral penganiayaan pria terhadap anak umur 2,4 tahun. Sebaya anak saya!

GAK (DIANGGAP) DEWASA


Hal yang bikin saya terus dianggep belum dewasa: badan pendek, muka baby face (sebenarnya gak terlalu bayi banget sekarang, udah kusem dan banyak kerut).

Ditambah pola pikir yang gak seperti temen - temen seumuran saya, makin memperparah keadaan ini. Jarangnya saya bersosialisasi dengan orang banyak dan orang baru bikin saya tambah gak dewasa. Jauh dari bijaksana dan kelabakan saat harus menghadapi persoalan orang dewasa.

Cepat panik, baper, lamban, dan tidak kreatif. Dengan semua hal ini saya sendiri ngeri melihat status saya sekarang sebagai ayah 2 anak dan dengan seorang perempuan yang mempercayakan saya sebagai suaminya. Saya tidak bisa bertanggung jawab sebagai manusia.

Saya gak bisa nyari kerja sampingan karena saya lamban dan sulit bergaul.

Saya gak bisa nyetir karena mental saya cetek, megang setir langsung keringetan - lutut lemes. 

Saya juga gak tahu cara berhadapan dengan orang.

Gak bisa ngebenerin hal - hal kecil di rumah berkaitan dengan listrik dan pertukangan.

Orang - orang juga selalu mencemaskan saya, mengkhawatirkan apa yang saya lakuin, dan meng-underestimate saya. Saya makin mengkonfirmasi mereka dengan kecerobohan-kecerobohan yang saya lakuin.

IDEALIS vs OPEN MINDED

 

Setelah menikah dengan istri, saya makin sadar betapa menyebalkannya diri saya.

Sebagian dari kalian akan benci tulisan ini, karena saya akan ngomongin zodiak.

Saya dan istri zodiaknya sama. Melihat dia, kayak melihat diri sendiri. Saya seperti ngaca. Pengen protes, tapi gak bisa, karena sifat saya juga seperti dia. Cara mengambil keputusan pun hampir mirip.

Yang paling berasa itu ketika istri sudah punya pendirian dan rencana. Kaku banget. Sulit sekali diubah. Untungnya, dia tidak ngerepotin orang lain. Dia akan mengusahakan sendiri agar tujuannya terwujud.

Tapi, bila sesuatunya tidak berjalan lancar, dia akan stuck. Diem. Berpikir. Merenung. Hanya saja, waktu terus berjalan. Yang diajak kerjasama gak bisa nunggu lama. Kalopun tetap jalan, kelihatan banget terpaksanya. Saya yang baperan kan jadi gak nyaman.

DIMINTA MASUK ADAT BALI


Berkali - kali saya disuruh masuk adat. Alasannya: karena saya sudah punya tanah di daerah sini.

Sebenarnya ini tidak masalah. Memang seharusnya seperti ini. Bagi yang punya tanah dan ditinggali, harus masuk warga adat. Masalahnya, dari bapak saya, hingga saya punya dua anak seperti sekarang, saya belum pernah terlibat dalam aktivitas adat.

Banyak ketakutam dalam diri saya untuk memulai pertama kali. Saya bukan tipe yang cepat membaur ke lingkungan baru. Belum lagi, dari saya kecil sulit masuk ke karakter masyarakat disini. Saya takut dibully, atau dikucilkan, atau mungkin dimanfaatkan. Menjadi korban.