MAAF, SAYA JUGA SERING MENGANIAYA SI SULUNG

Sempat muncul di dasbor google tapi tak saya hiraukan. Ada juga yang share di facebook,tapi hanya selewat. Beritanya mirip dengan beberapa kejadian serupa dan saya tak tertarik mengikutinya. Sampai akhirnya hari ini jadwal saya WFO.

Teman menceritakan lagi peristiwa ini. Bahkan dia menunjukkan videonya.

Saya masih tak bergeming. Lalu teman membahas ini ke teman yang lain di ruangan. Deskripsi ceritanya jelas banget. Bikin penasaran. Akhirnya saya mengiyakan.

Video viral penganiayaan pria terhadap anak umur 2,4 tahun. Sebaya anak saya!

GAK (DIANGGAP) DEWASA


Hal yang bikin saya terus dianggep belum dewasa: badan pendek, muka baby face (sebenarnya gak terlalu bayi banget sekarang, udah kusem dan banyak kerut).

Ditambah pola pikir yang gak seperti temen - temen seumuran saya, makin memperparah keadaan ini. Jarangnya saya bersosialisasi dengan orang banyak dan orang baru bikin saya tambah gak dewasa. Jauh dari bijaksana dan kelabakan saat harus menghadapi persoalan orang dewasa.

Cepat panik, baper, lamban, dan tidak kreatif. Dengan semua hal ini saya sendiri ngeri melihat status saya sekarang sebagai ayah 2 anak dan dengan seorang perempuan yang mempercayakan saya sebagai suaminya. Saya tidak bisa bertanggung jawab sebagai manusia.

Saya gak bisa nyari kerja sampingan karena saya lamban dan sulit bergaul.

Saya gak bisa nyetir karena mental saya cetek, megang setir langsung keringetan - lutut lemes. 

Saya juga gak tahu cara berhadapan dengan orang.

Gak bisa ngebenerin hal - hal kecil di rumah berkaitan dengan listrik dan pertukangan.

Orang - orang juga selalu mencemaskan saya, mengkhawatirkan apa yang saya lakuin, dan meng-underestimate saya. Saya makin mengkonfirmasi mereka dengan kecerobohan-kecerobohan yang saya lakuin.

IDEALIS vs OPEN MINDED

 

Setelah menikah dengan istri, saya makin sadar betapa menyebalkannya diri saya.

Sebagian dari kalian akan benci tulisan ini, karena saya akan ngomongin zodiak.

Saya dan istri zodiaknya sama. Melihat dia, kayak melihat diri sendiri. Saya seperti ngaca. Pengen protes, tapi gak bisa, karena sifat saya juga seperti dia. Cara mengambil keputusan pun hampir mirip.

Yang paling berasa itu ketika istri sudah punya pendirian dan rencana. Kaku banget. Sulit sekali diubah. Untungnya, dia tidak ngerepotin orang lain. Dia akan mengusahakan sendiri agar tujuannya terwujud.

Tapi, bila sesuatunya tidak berjalan lancar, dia akan stuck. Diem. Berpikir. Merenung. Hanya saja, waktu terus berjalan. Yang diajak kerjasama gak bisa nunggu lama. Kalopun tetap jalan, kelihatan banget terpaksanya. Saya yang baperan kan jadi gak nyaman.

DIMINTA MASUK ADAT BALI


Berkali - kali saya disuruh masuk adat. Alasannya: karena saya sudah punya tanah di daerah sini.

Sebenarnya ini tidak masalah. Memang seharusnya seperti ini. Bagi yang punya tanah dan ditinggali, harus masuk warga adat. Masalahnya, dari bapak saya, hingga saya punya dua anak seperti sekarang, saya belum pernah terlibat dalam aktivitas adat.

Banyak ketakutam dalam diri saya untuk memulai pertama kali. Saya bukan tipe yang cepat membaur ke lingkungan baru. Belum lagi, dari saya kecil sulit masuk ke karakter masyarakat disini. Saya takut dibully, atau dikucilkan, atau mungkin dimanfaatkan. Menjadi korban.

SATU SELESAI, YANG LEBIH MENYEBALKAN TELAH MENUNGGU


Puas banget bisa nyelesein satu tanggung jawab di kantor. Mengisi belasan buku dan dokumen dengan tulis tangan. Proyek ini saya kerjakan selama lima hari. Dah lama banget gak ngerasain sensasi ini. (Karena udah lama gak bener-bener nyelesein tugas secara penuh :p)

Sayangnya kebahagiaan ini tercoreng karena salah satu tanggung jawab saya yang lain langsung memanggil. Tugas laporan persediaan barang. Panggilan ini bahkan datang di hari kedua projek tulis tangan ini. Cuman saya yang ngeles dan terus menghindar agar bisa fokus menyelesaikan tugas tulis tangan dahulu.