MALAS


Ide menulis banyak.

Kerjaan juga banyak.

Inspirasi gak kurang.

Tapi motivasi menghilang.

Ga ada yang diambil, pada akhirnya. Karena sibuk mikirin mana yang pengen diambil, mana yang ada semangat yang cukup untuk dilakukan.

Kesel. Tapi gak bisa apa - apa. Makan makanan enak udah gak mempan balikin mood. Great sex kali ya? #eh

Gak tau sampe kapan mandek kaya gini.

Begini lagi.. begini lagi.. cape

RASANYA MASIH LAMA BISA MEGANG GITUAN LAGI


Gak ada yan lebih bermasalah dengan kedisiplinan daripada saya.

Saya adalah mahasiswa berkemampuan otak IPK 2,7 tapi karena beruntung, saat wisuda berakhir dengan IPK 3 lebih dikit, dengan waktu tenpuh kuliah lebih dari 5 tahun. Kamar kos jadi saksi bagaimana tidak disiplinnya saya menjalani studi S-1. Skripsi saya bikin dengan lamban. Kebanyakan istirahatnya. Susah fokus dan kebanyakan main-main. Pas penelitian dan sidang hancur parah.

Lelaki malas itu kini bertanggung jawab terhadap satu anak orang yang dengan ajaibnya mau menghabiskan sisa hidupnya dengan saya sebagai istri saya, dan satu anak saya sendiri.

GAK BISA LEBIH DARI 5


Ternyata bulan lalu tetep gak bisa posting setidaknya 10 postingan. Padahal ngerasanya bakal bisa. Semangat berkarya lumayan tinggi. Serta desakan situasi untuk terus berkreatifitas.

Tetep cuma bisa kurang dari hitungan satu tangan.

MEKANISME PUNYA KELUARGA MENINGGAL SAAT CORONA


Ini semua dari apa yang saya dengar dan lihat di rumah saya. Mungkin ada beberapa perbedaan dari apa yang terjadi sebenarnya di kampung saya di Buleleng.

Jadi kalo ada keluarga yang baca tulisan ini (harusnya sih ada yang baca ya karena postingan ini akan saya share di facebook dengan judul postingan yang amat jelas seperti yang tertera di atas) dan ingin mengkoreksinya, bisa langsung komen di bawah, atau sampaikan ke saya lewat akun sosmed saya yang kalian tahu.

Saat penyakit paman kambuh, langsung kami larikan ke RSUD Kabupaten Buleleng dengan bantuan ambulan. Disana kami dirujuk ke RSUP Sanglah di Denpasar untuk tindakan pencegahan kalau - kalau paman kami kena Corona.

Sebelumnya, untuk informasi, paman kami menderita diabetes dan gagal ginjal.

YANG LAIN BERHASIL, SAYA TIDAK


Wabah menyerang dunia, ekonomi sekarat. Manusia dihimbau untuk tetap di rumah, tidak boleh ada kerumunan, saat bertemu harus berjarak. Sedangkan mayoritas pekerjaan di negeri ini masih menggunakan metode offline atau tatap muka langsung.

Terlebih lagi Bali yang pendapatan daerahnya bergantung pada Pariwisata. Para turis tidak berani keluar dari rumahnya, dan pemerintah tidakberani membuka pintu untuk mereka khawatir membawa wabah. Akhirnya pariwisata pun hibernasi.

Sedangkan negeri ini belum siap menghadapi situasi ini.