THE DIED DON'T DIE (2019), PENGEN KETAWA TAPI...


Sempet heran kenapa Selena Gomez mau main di film Dead Don't Dead. Karena pada akhirnya dari trailernya saja kurang meyakinkan. Kemudian setelah dirilis, banyak penonton yang kecewa. Anehnya, kritikus malah suka?!

(mungkin karena mainnya cuma sebentar. matinya cepet)

Bahkan perilisan DVD yang terlalu dekat dengan tanggal perilisan di bioskop diindikasikan sebagai tanda filmnya ga laku.

Yang gagal dalam film ini selain akting pemainnya, juga karena pemilihan genre. Ngaku sebagai film horor komedi, tapi gak ada serem - seremnya tapi masih ada lucunya, meski dikit.

MIB: INTERNATIONAL (2019), SORRY MARAH - MARAH


Men in Black: International bener - bener mempermalukan nama besar Men In Black.

Hampir semua film dengan sistem franchise mengalami film terbaru mereka gak bisa sebagus pendahulunya. Cuman, ini adalah film keempat!

Kalo film pertama lebih ke perkenalan kita kepada organisasi pria berbalut busana serba hitam dan pertama kalinya agen J (Will Smith) bertemu agen K (Tommy Lee Jones), film kedua masih tentang perburuan alien tapi ditambahi cerita tentang bagaimana agen K yang pensiun lagi untuk membantu agen J.

Lalu di seri terakhirnya lebih menitik beratkan kepada alasan sebenarnya agen J dan agen K bisa bertemu. Disini terjadi twist terbesar yang mengguncang dua film sebelumnya.

DETECTIVE PIKACHU (2019), GIVE ME MOREEEEE


Saya agak kecewa dengan sepinya orang ngomongin kemunculan film Pokemon: Detective Pikachu. Sempet heboh sebentar, tapi gak berlangsung lama.

Mungkin fans Pokemon memang jumlahnya gak terlalu masif. Dari jumlah itu, gak semua nonton filmnya. Alhasil gema film Pokemon gak segede game Pokemon Go.

Padahal menurut saya film ini bagus.

PERTAMA: saya suka ekspresi Pikachu sebagai tokoh sentral, dan pokemon - pokemon lain dalam film ini. Hidup banget. Lucunya dapet, interaktifnya pun dapet. Gak kaya film Lion King milik Disney yang lebih mirip National Geographic. Kalo kamera gak close up ke hewannya, kita gak akan tahu siapa yang ngomong.

It Chapter One (2017), YANG UDAH BACA NOVELNYA AJA YANG NGERTI


Gara - gara akan nonton IT Chapter Two, saya maksain diri nonton Chapter One. Padahal saya gak suka nonton film horor. Nonton itu untuk dapet hiburan, ini malah kitanya yang nyari buat dikagetin dan dibikin tegang. Sorry, saya gak kaya gitu cara dapet hiburannya.

Tapi, karena banyak yang ngomongin film IT ini, bahkan dari yang Chapter One, penasaranlah saya. Kepo.

Jadi IT itu menceritakan iblis/hantu yang selalu keluar tiap 27 tahun sekali, meneror sebuah kota dengan menculik (dan menghilangkan nyawa?) anak - anak di kota itu. Cuman hal - hal mengerikan yang menyertai hilangnya anak - anak ini cuma anak - anak yang bisa lihat. Orang dewasa melihat ini kaya kasus anak hilang biasa.

HOTEL MUMBAI (2019). GAK ADA KATA POSITIVE THINKING KEPADA TERORIS


Maunya saya tulis review ini di social media, cuman saya takut viral. Respon di sosmed itu kenceng banget. Cepet.

Facebook, twitter, apalagi instagram (yang isinya orang - orang bahagia selalu berpakaian bagus dan sering piknik tapi cara mereka komentar dan menanggapi sesuatu ga tercermin dari postingan mereka).

Karena film Hotel Mumbai ini SARA banget. Paling aman nulisnya disini. Orang - orang kan udah pada males banget ngeklik link, apalagi kalo judulnya gak bombastis.

Baik, mari kita mulai review-nya.


Kalo di Indonesia, tiap ada teroris, selalu ada yang bilang,"Jangan lihat agamanya, teroris tidak punya agama."

Tapi hal itu gak berlaku untuk film ini. Di film ini ditampilin kalo para teroris punya agama. Dijelasin teroris itu kaya gimana dan kenapa mereka milih jadi teroris.