MEKANISME PUNYA KELUARGA MENINGGAL SAAT CORONA


Ini semua dari apa yang saya dengar dan lihat di rumah saya. Mungkin ada beberapa perbedaan dari apa yang terjadi sebenarnya di kampung saya di Buleleng.

Jadi kalo ada keluarga yang baca tulisan ini (harusnya sih ada yang baca ya karena postingan ini akan saya share di facebook dengan judul postingan yang amat jelas seperti yang tertera di atas) dan ingin mengkoreksinya, bisa langsung komen di bawah, atau sampaikan ke saya lewat akun sosmed saya yang kalian tahu.

Saat penyakit paman kambuh, langsung kami larikan ke RSUD Kabupaten Buleleng dengan bantuan ambulan. Disana kami dirujuk ke RSUP Sanglah di Denpasar untuk tindakan pencegahan kalau - kalau paman kami kena Corona.

Sebelumnya, untuk informasi, paman kami menderita diabetes dan gagal ginjal.

Dengan bantuan rumah sakit Buleleng, sepupu saya mengantar ayahnya ke Denpasar. Sampai di Sanglah, hanya boleh satu orang yang mengantar masuk di dalam dan menemani pasien selama dirawat. Nantinya, jika hasil tes menunjukkan hasil positif, keluarga yang menemani di dalam langsung dikarantina. Sepupu saya yang lain menemani dari luar lobi berjaga - jaga ada hal yang dibutuhkan sepupu saya yang di dalam.

Sayangnya, paman kami tidak mampu bertahan lebih lama lagi. Kami harus kehilangannya di hari kedua dirawat disana. Tapi kami tak bisa langsung membawa mayatnya ke tempat peristirahatan.

Mayat paman kami harus menunggu hasil tes corona. Selama hasilnya belum keluar, mayatnya belum boleh dimasukkan ke kamar mayat.

Beberapa hari kemudian (kalo tidak salah tiga hari), hasil tes keluar. Paman kami negatif corona. Di hari itu juga mayatnya bisa diambil untuk dibawa pulang dengan ambulan. Kena ongkos 1,8 juta untuk biaya selama mayat di rumah sakit.


Sampai kampung, mayat almarhum langsung dimakamkan dan diupacarai dengan layak.

0 bukan komentar (biasa):

Post a comment

Jangan lupa cek twitter saya @tukangcolong
Dan channel YOUTUBE saya di
SINI