YANG LAIN BERHASIL, SAYA TIDAK


Wabah menyerang dunia, ekonomi sekarat. Manusia dihimbau untuk tetap di rumah, tidak boleh ada kerumunan, saat bertemu harus berjarak. Sedangkan mayoritas pekerjaan di negeri ini masih menggunakan metode offline atau tatap muka langsung.

Terlebih lagi Bali yang pendapatan daerahnya bergantung pada Pariwisata. Para turis tidak berani keluar dari rumahnya, dan pemerintah tidakberani membuka pintu untuk mereka khawatir membawa wabah. Akhirnya pariwisata pun hibernasi.

Sedangkan negeri ini belum siap menghadapi situasi ini.

Siapapun tak akan siap. Bahkan negara - negara maju pun tampak gagap menghadapi pandemi. Bisa kita lihat dari puluhan ribu korban jiwa.

Kita mungkin masih bisa berproduksi. Tapi konsumen, kehilangan daya belinya. Toko - toko tutup karena waspada jadi tempat menularnya virus. Pekerja dirumahkan.

Kita tak tahu kapan situasi ini akan berakhir. Opsi dari manusia adalah menghemat mungkin pengeluaran agar bisa bertahan hingga perekonomian bergulir kembali.

Atau berusaha mencari pemasukan lain agar jantung ekonomi rumah tangga tetap ada denyutnya.

Opsi pertama yang paling banyak dipilih orang - orang adalah jualan makanan. Bahannya masih gampang ditemukan dan makanan adalah kebutuhan pokok manusia.

Hanya saja, hampir semua berjualan. Lalu siapa yang belanja? Kalo terus kaya gini, kita mungkin kembali ke jaman barter...

Saya takjub karena masih ada orang - orang yang dagangannya laris. Mungkin pembeli mereka adalah orang - orang yang gak terlalu terimbas oleh pandemi. Hebat mereka (yang jualan, maupun yang beli).

Tapi yang sering saya lihat siklusnya sama. Pertama teman - teman membeli karena penasaran dengan barangnya. Pembelian kedua karena kasihan. nah kalo sampai orang yang sama bisa beli sampe ketiga kalinya, mungkin makanannya emang enak, atau yang beli adalah keluarga sultan.

Makanya, perlu untuk terus memperluas pasar. Gapapa orang yang beli cuma satu kali, tapi pembelinya banyak.

Beberapa teman yang saya kenal telah berhasil menunjukkan jualan mereka laku. Yang satu jualan udang. Tiap hari nampilin sedang transaksi dengan pembeli di story whatsapp. Teman saya satu lagi berhasil membuat handsanitizer rumahan. Sekali jualan bisa ratusan ribu.

Dan satu lagi berhasil beralih ke youtube. Akunnya melejit dengan kualitas produksi yang mumpuni.

Saya sendiri belum pindah kuadran kehidupan dari pembeli ke pedagang. Tiap keluar masih suka mampir ke minimarket beli cemilan. Bahkan pengeluaran rutin bulanan malah gak bisa ditekan.

Saya sudah berusaha mencari pendapatan lain. Tapi masih tertatih. Silakan bilang saya manja, tapi saya butuh teman seperjuangan yang sepadan. Capek udah semangat menggebu - gebu bercerita tentang hal yang saya lakukan, direspon B aja. Itu lumayan bikin down.

Padahal saya sadar saya punya potensi, namun situasi hati saya sering buruk. Atau, dibikin buruk. Anehnya, ketika main game, saya malah didukung. Apakah lingkungan saya memang mengharapkan saya jadi hancur?


0 bukan komentar (biasa):

Post a comment

Jangan lupa cek twitter saya @tukangcolong
Dan channel YOUTUBE saya di
SINI