FINAL: BELGIA - CROATIA


Saya bukan orang yang ahli tentang bola. Bukan orang yang mantengin 24 jam berita tentang bola dan megang data statistik sepakbola seluruh dunia. Makanya pas musim World Cup kaya sekarang saya lebih milih diem.

Ga seperti orang-orang yang sebelum piala dunia kalo nonton bola komennya,”Ini yang jahat yang mana?”

Lu kira sinetron ada pemeran antagonisnya!

Ada juga yang nanya,”Itu yang lari-lari sendirian siapa??”

Itu wasittt!! *insert emot tai here*

Atau ngasi komen sok tahu,”Kenapa sih mereka ga dikasi bola aja satu-satu biar ga berebut kaya gitu?”

Serah lu dah.

Lalu tiba-tiba, ketika piala dunia dimulai, wuidih... Komen-komennya udah kaya tiap hari sarapannya majalah sepakbola dibakar lalu dicampur sereal.

Tipe-tipe orang kaya gini biasanya yang bilang sebuah tim mainnya jelek cuma karena dia gak ngegol. Atau yang bilang permainannya boring hanya karena memilih bertahan. Yang masih ngejagoin tim-tim kuno untuk jadi juara gitu deh pokoknya.

Setiap orang berhak berpendapat. Dan bebas mau nyampein pendapatnya dengan cara apa pun. Masalah baik - buruknya, itu resiko mereka. Saya sendiri lebih milih menyampaikan pendapat saya ke temen deket aja. Malu, cuy, kalo terlanjur bikin status, lalu ternyata pendapat saya salah.

Sekarang saya berani bicara di blog karena merasa inilah saat yang tepat. Ternyata pendapat saya selama ini yang hanya teman saya saja yang tahu mulai keliatan kebenarannya. Selain karena gerah sama orang-orang yang ngomong bola kaya ngomongin politik: komen aja dulu, mikirnya belakangan.

Dan silakan kalian mengkritik pendapat saya. Very welcome. Karena saya sadar, saya gak pakar di bidang ini, jadi amat wajar kalo ada salah. Mari diksusi, saling koreksi, dan berbagi. Asal jangan debat, ga ada duitnya bro!


Selain seretnya perjalanan tim – tim (yang konon) besar di piala dunia, strategi bermain tim – tim medioker yang jadi kuda hitam juga menarik.

Lihat Islandia ketika melawan Argentina. Ga semua tim bisa bertahan kaya Islandia. Ini ngingetin gimana legendarisnya pertahanan Italia jaman dulu. Orang – orang malah nyalahin Messi. Pelatihnya tuh salahin. Tim yang memperlakukan pemain bintangnya dengan benar adalah Portugal. Ronaldo hanya bertugas mencetak gol. Pemain lain melayani dia untuk mendapat peluang dan kesempatan mencetak gol sebanyak-banyaknya.

Sedangkan Messi, dia bikin ruang gerak untuk temen-temennya, dia juga yang kreasi serangan, dan dia juga yang bertugas nyetak gol. Hampir mirip fungsinya dengan Neymar di Brasil. Cuman Neymar lebih beruntung karena Brasil mampu berjalan satu tapak lebih jauh daripada Argentina di Piala Dunia kali ini. Brasil mampu melangkah sampai perempat final.

Pertahanan tim – tim medioker cantik banget. Seni tingkat tinggi mah ini. Gimana Islandia mengawal Messi dengan tiga orang dan sisanya bertahan di area bertahan. Yang akhirnya bikin Argentina cuma bisa ngegol sebiji dan dibales sebiji sama Islandia.

Gimana Rusia, yang bahkan masyarakat dan pendukungnya sendiri meragukan kemampuan mereka. Pemainnya banyak yang tua-tua. Dikatain gagal mempersiapkan diri. Bahkan memulai piala dunia dengan peringkat FIFA paling rendah dari semua tim peserta pildun.

Tapi mereka mampu menjawab keraguan dunia. Arab digasak 5 gol tanpa balas. Moh Salah FC dihajar 3-1. Dan memulangkan Spanyol.

Yang hebat itu adalah startegi yang dipakai Rusia. Kalo tim-tim lain biasanya mulai menempel pemain lawan yang bawa bola kalo sudah memasuki setengah lapangan di area mereka. Nah ini Rusia mainnya kaya orang yang baru pertama kali main PS. Mencet X gak lepas-lepas.

Yang gak ngerti PS, itu maksudnya lawan dicari terus dimana pun mereka berlari. Lawan cuma dikasi megang bola gak lebih dari lima sentuhan, langsung diganggu. Gimana lawan bisa membuat serangan kalo dipepet terus kaya gitu?

Tapi ga tau juga, sih, kalo ternyata diam-diam Presiden Putin menelpon pemain utama yang akan jadi lawan mereka,"Keluarga kamu sekarang lagi ada sama saya. Mau denger suara mereka?"

Terus selesai pertandingan, Putin nelpon lagi,"Main kamu tadi bagus, sekarang kamu bisa berkumpul dg keluargamu."

Kekuatan sepakbola dunian udah bergeser. Indikasinya mulai kelihatan sejak Italia dan Belanda gak lolos. Tapi orang – orang masih aja fokus ke negara-negara yang punya nama dan sejarah besar di dunia sepakbola.

Apalagi penggunaan teknologi VAR juga ngaruh ke performa tim-tim yang harusnya punya daya gedor tinggi. Striker – striker tajam gak berani beraksi berlebihan seperti diving ngarep dapet penalty. Takutnya ketahuan VAR,ntar malah mereka yang dapet kartu. Para penyerang jadi gak berani terlalu banyak ngambil resiko.


Lalu orang – orang mulai kaget saat negara-negara besar mulai berguguran. Saya juga sempet kaget, karena bberapa negara dengan sejarah sepakbola yang kuat gugurnya kecepetan. Tapi bukan itu prediksi saya tentang piala dunia tahun ini.

Dari sebelum piala dunia, tepatnya sejak Piala Eropa dua tahun lalu dan final Liga Champion tahun ini perhatian saya sudah fokus ke dua negara.

Belgia, yang sejak Euro digadang-gadang jadi salah satu calon juara karena kesebelasan mereka sekarang dianggap oleh banyak orang segabai generasi emas Belgia. Cuman di Euro kemarin mereka gagal. Pengamat bilang itu faktor mental.

Tapi itu sudah dua tahun lalu. Sekarang pemainnya makin matang. Terbukti mereka berhasil melangkah ke semifinal. Jika mereka berhasil sampai final, saya sih ga kaget. Gak tau deh kalo orang lain. (--, )

Negara kedua yang menarik bagi saya adalah Kroasia. Modric, dengan postur kurusnya, gak tampak dia adalah pemain hebat. Tampak masih lebih lincah Ozil di Jerman, D’Maria di Argentina, Iniesta di Spanyol, atau Sterling di Inggris. Tapi lihat dulu kalo dia main.

Gayanya emang gak banyak tingkah. Gak nunjukin skill – skil sulit dan mengagumkan seperti Pirlo di Italia dulu meski sama-sama jenderal di lapangan tengah. Karena bukan itu gaya permainannya. Dia bermain amat praktis dan efisien.

Terbukti Ia mampu membawa Madrid juara Champion 3 kali. Emang bener kalo Ronaldo yang ngeggol, tapi otak dari serangan-serangan Madrid siapa? Ya orang ini.

Meski selama babak gugur Kroasia selalu lolos karena adu pinalti, saya sih yakin Kroasia lolos final.

Masalah siapa yang juara antara Belgia dan Kroasia, kalo Belgia berhasil mematikan Modric, Belgia bisa menang. Tapi saya belum tahu sampai dimana kehebatan Modric dalam bermain bola. \

0 bukan komentar (biasa):

Post a Comment

Jangan lupa cek twitter saya @tukangcolong
Dan channel YOUTUBE saya di
SINI