GAK SUKA PRANCIS JUARA


Prediksi saya ditulisan ini setengah benar. Kedua tim yang saya ramalkan lolos ke Final, cuma bener satu. Prancis dengan pintarnya bermain bertahan, bikin Belgia gak nyaman, yang akhirnya mampu dimanfaatkan Prancis untuk mencuri gol dan lolos ke final.

Final Piala Dunia sudah usai. Prancis yang jadi juaranya. Saya nontonnya di acara nobar di Telkom. Tapi di menit 80 pertandingan berlangsung saya sudah balik, saya sudah merasa Kroasia gak bakal bisa mengejar ketertinggalan mereka dari Prancis yang sedang unggul 4-2.

Saya jadi inget pertama kali momen dimana saya ngikutin pertandingan bola sampe begadang kaya gini. Kalo diinget lebih jauh, pertama kali nonton pertandingan bola di TV itu pas piala dunia 2002. Waktu itu saya masih berlangganan Bobo. Pada beberapa edisinya menjelang Piala Dunia, Bobo selalu bikin edisi special piala dunia. Dari pernak – pernik, bonus kartu yang berisi gambar dan biodata pemain, jadwal pertandingan, stadion-stadion yang akan dipake, dan ulasan-ulasan lainnya. Tampak seru banget. Makanya saya penasaran buat nonton.

Pas itu Piala Dunia diadain di Korsel dan Jepang, jadi mainnya gak malem – malem banget. Sekitar jam 7-an kalo ga salah. Saya masih inget waktu itu nonton Prancis dikalahkan Senegal. Padahal di majalah Bobo, Prancis sering dibicarain. Digolongkan tim kuat karena juara bertahan dan disebut-sebut sebagai calon juara lagi karena masih dibela pemain – pemain yang membawa Prancis Juara Piala Dunia 1998.

Di lingkungan bermain saya waktu itu juga mulai terjangkit wabah Piala Dunia. Anak – anak yang kalo main biasanya berebut jadi penyerang, mendadak pengen jadi kiper gara – gara terinspirasi kehebatan dan aksi-aksi keren kiper Jerman, Oliver Kahn, di Piala Dunia kala itu.

Badannya yang gagah dan wajahnya yang sangat kharismatik juga yang bikin anak – anak ketika itu pada kagum. Kala itu saya menjadi fans Jerman dadakan karena melihat aksi-aksi dari Kahn dan juga kerennya permaian Michael Ballack. Saya malah gak suka sama Brasil dengan Ronaldo-nya, meski dimana - mana orang – orang pada muji dia.


Saya juga inget gimana Korea Selatan mampu menyingkirkan Italia, gimana marahnya pelatih Italia kala itu dengan aturan siapa yang duluan mencetak gol duluan di babak tambahan dia yang menang, dan diusirnya Ahn Jung Hwan dari Italia karena dia yang mencetak gol kekalahan Italia.

Kemudian terjadi insiden Ballack gak bisa ikut Final karena akumulasi kartu kuning. Saya yang waktu itu masih belum terlalu ngerti sepakbola gak terlalu peduli. Hanya bisa melihat dan mendengar bagaiaman kecewanya orang – orang saat Ballack cuma bisa nonton temennya bermain di final. Sampai pada akhirnya saya ikut sedih karena melihat Jerman kalah oleh Brasil dengan Ronaldo (yang-kurang-saya-sukai) mencetak gol ke kiper idola saya, Oliver Kahn. Kiper jagoan saya kebobolan 2 gol sekaligus! :(


Dua tahun berselang, pas mulai masuk SMA, bacaan saya mulai berubah. Dari Bobo ke tabloid Bola dan tabloid Soccer. Di tahun inilah pertama kali saya ijin ke ortu buat begadang nonton bola. Kala itu saya nonton liga Champion, lalu berlanjut rutin tiap minggu begadang nonton liga Spanyol (La Liga). Kemudian di tahun yang sama masuklah musim piala Eropa, atau Euro Cup.

Di tahun itu saya sudah lumayan ngerti bola dan kenal pemain – pemain bola meski mereka ga kenal saya. Cristiano Ronaldo sudah mulai terkenal dari tahun sebelumnya. Dan lagi – lagi saya melihat Prancis menangis karena kalah di Euro, mulai kagum dengan permainan Ceko karena strikernya yang tinggi sering saya pakai kalo main PS dan beberapa pemain Ceko lain yang hebat –hebat yang sering dibahas di media - media, dan penampilan ajaib Yunani yang membuat mereka akhirnya juara mengalahkan negara-negara kuat Eropa lainnya. Sayang keajaiban mereka gak bertahan hingga Piala Dunia berikutnya. Makin mengesankan kalo mereka juara Euro karena kebetulan.

Oia ada tangisan Cristiano muda kala itu karena kalah di final (kayanya sih final,, atau semifinal? Tolong koreksi jika salah), tapi ketika itu hal itu gak penting buat saya makanya saya gak terlalu peduli.

Dua tahun berselang musim Piala Dunia datang lagi. Kala itu Jerman jadi tuan rumah. Gila ya, kalo ditulis begini, 4 tahun gak berasa, rasanya cepet banget berlalu. Serasa tiga tahun lebih setahun.

Saya gak ngikutin Piala Dunia 2006 ini secara intens. Saya cuma inget logo Piala Dunianya yang lucu dan ikonik banget. Tapi saya nonton finalnya. Prancis lawan Italia.

Karena gak terlalu fanatik bola, bikin saya gak tau harus dukung yang mana. Namun seiring berjalannya pertandingan, saya lebih condong memihak Prancis. Permainannya lebih enak ditonton. Italia bermain bertahan, yang sudah menajdi ciri khasnya mereka. Apalagi waktu itu Zidane masih main. Ngeliat dia bawa bola kaya liat orang lagi ngelukis, demen banget nontonnya. Sayangnya ada insiden Zidane nanduk Materazzi, yang kemudian viral sampe Valentino Rossi pakai bajunya ketika Rossi menang motoGP dan naik podium. Makin kesel dah sama Italia khususnya Materazzi.


Waktu itu pertandingan emang lagi seru-serunya. Saya tenggelam di dalam ketegangan. Saking larutnya dalam pertandingan, saya bongkar lemari, dan nemu satu baju yang ada gambar Prancisnya, buat aksesoris, biar makin semangat. Kebetulan saya inget saya punya baju yang ada logo Prancisnya. Saya putar – putar bajunya seperti yang dilakukan suporter di dalam stadion saking semangatnya.

Tapi itu dulu.

Di Piala Dunia Tahun ini saya gak mendukung Prancis. Saya gak mendukung tim – tim besar. Saya dari dulu gak suka mainstream. Gak suka melakukan sesuatu yang orang sudah duga. Di tulisan kemarin pun saya sudah nulis panjang lebar tentang kekuatan sepakbola modern yang sudah bergeser dan kenapa negara – negara yang punya sejarah kuat di sepakbola gak lagi layak dijagoin segitu besarnya. Hanya saja saya ga nyangka tim – tim besar akan gugur secepat piala dunia musim ini.

Ketika final, Saya awalnya ragu apakah masih bisa mendukung Kroasia setelah melihat pertandingan berlangsung.

Setelah wasitu meniup peluit tanda permainan dimulai, beberapa menit pertandingan berlangsung, ternyata saya masih tetap respect kepada Kroasia. Hanya saja, ternyata bola tidak lagi bundar, apa yang menajdi prediksi di atas kertas, juga terjadi di lapangan hijau. Kroasia tetap bermain dengan gaya militant, namun Prancis dari segi mental dan kolektifitas skill rata – rata masih di atas Kroasia. Ditambah keberuntungan yang enggan berada di kubu tim kotak-kotak. Goal bunuh diri, handball yang terekam VAR, hingga serbuan suporter ke dalam lapangan Kroasia dalam keadaan menyerang dan bek Prancis belum siap menerima serangan, tapi pertandingan harus dihentikan. Saya kesal sekali melihat foto - foto wajah-wajah suporter yang masuk lapangan itu meskipun mereka masuk kategori cewe cantik.


Saya lebih senang Kroasia yang juara. Tim kecil yang tidak diunggulkan sejak awal.

Saya tidak menonton pertandingan hingga usai, hingga penyerahan piala. Saya sudah duga kalau Kroasia gak akan bisa mengejar ketertinggalan 4-2 melihat dari gaya permainan mereka dan kuatnya lini pertahanan Prancis. Dan saya juga males liat muka-muka pemain Prancis merayakan kemenangan dan juara yang mereka dapat. Jadi sebelum pertandingan usai, saya memutuskan pulang duluan.


1 bukan komentar (biasa):

Deni said...

aku sukanya malah belgia yang juara sih

Post a comment

Jangan lupa cek twitter saya @tukangcolong
Dan channel YOUTUBE saya di
SINI