APA YANG TERJADI DI FACEBOOK, BELUM TENTU SAMA DENGAN KEADAAN ASLINYA


Memantau status gunung Agung dari sosmed itu sangat gak menyenangkan. Cemas dan panik bercampur jadi satu. Makin lama memantau facebook, perasaan makin ga tenang. Saya mungkin aman di Denpasar, tapi ibu, bapak, nenek, dan banyak keluarga dari ibu saya ada di Karangasem.

Ketahuilah wahai kawan - kawan, apapun yang kalian tulis atau share di facebook di saat gawat seperti ini, hanya akan memperkeruh keadaan. Bahkan jika kalian membuat status berdoa, itu hanya bikin info - info penting dan bermanfaat malah tenggelem.

Paling bener ya berdoa, kalo emang punya keluarga di Karangasem langsung hubungi, sisanya share info dari akun - akun resmi pemerintah atau instansi terkait. Karena bagi kami - kami anak kos yang gak punya TV, hanya media sosial sumber berita kami. Sebarlah berita dari media atau instansi yang terpercaya. Kalo ragu, periksa lagi sumber pemberi berita. Kalo ga bisa periksa, jangan disebar! Jangan malah jadi kaya orang yang gak kesampean jadi wartawan tapi masih ingin jadi yang terdepan dalam mengabarkan.

Soal berdoa di facebook. Ketika manusia mulai mendewakan jumlah like, maka doa - doa pun dipanjatkan di media sosial.

Jangan - jangan tuhan di surga sana bingung kenapa tak ada doa yang sampai kepadanya secara langsung padahal sebentar lagi dia mau ngasi musibah. Lalu malaikat ngasi tahu,"Coba Tuhan cek notif facebook."

Ini kan serem, ya? Bayangin kalo Tuhan memang punya facebook, trus karena kesibukannya, Dia ga sempet ngecek akun milik-Nya, berati dia gak baca doa - doa kalian. Doa kalian pun gak terkabul. Kan, ngeri.

Atau Tuhan pas lagi lupa sama password facebook-Nya, akhirnya ga bisa masuk, dan kalian ujung - ujungnya berdoa sama tembok, soalnya Tuhan gak bisa baca doa kalian.

Mending biar lebih personal, sampaikan doa kalian lewat email, biar langsung masuk ke sekretarisnya Tuhan. Atau pm lewat WA, pasti dibaca tuh!

Saya sendiri selama peristiwa kenaikan status Gunung Agung ini gagal jadi anak yang berbakti. Saya hanya menghubungi ibu di rumah dua kali sehari. Padahal kenaikan statusnya udah hampir 2 minggu. Itu pun saya menghubunginya cuma lewat SMS. Maklum, tanggal tua, pulsa abis.

Semoga  saat bencana ini selesai, saya gak dihapus dari KK.

Seakan hendak balas dendam, pesan saya sering gak dibales sama ibu. SMS pertama, dibales. Saya bales lagi, ibu saya gak bales. Ini kan bikin saya makin cemas. Taunya operator kami yang bermasalah. Kadang pesan saya ga masuk ke hape ibu, kadang balesannya ibu yang ga terkirim ke saya.

Pengen nyusul pulang ke rumah, masih harus ngantor. Pas dapet libur, males kumat, akhirnya tidur seharian. Hadeh

Lalu status gunung agung naik jadi awas. Ketika siaga aja orang - orang udah paranoid, kebayang kan situasi di facebook pada saat gunung Agung mencapai level tertinggi ini?

Saya skip untuk status kepanikan dan kecemasan, berita keadaan dan kenaikan status gunung agung, apalagi status yang isinya doa dan yang coba menenangkan diri. Dan saya ulang sekali lagi, tahan jari untuk mencet share, terutama berita yang isinya sama dengan yang kamu share sebelumnya. Atau bikin status yang isinya sama topiknya gak jauh beda. Itu hanya akan membuat info - info pemting dari orang lain jadi tenggelem.

Jika status - status kaya yang udah saya sebutin di atas bisa saya skip, saya gak bisa untuk tetap tenang lagi saat info dan foto orang - orang yang sudah mulai mengungsi, bahkan ngungsinya sampe ke kabupaten tetangga. Desa - desa lainnya juga diberitakan (secara jurnalisme warga) ikut mengungsi. Banyak diantara mereka diangkut pakai truk.

Saya pun mulai cemas dengan keadaan orang di rumah.

Dari pihak pemerintah menyebutkan bahwa daerah yang wajib mengungsi adalah jarak 9 dan 12 km dari gunung, dan kebetulan desa tempat ibu saya tinggal tidak termasuk ke dalamnya. Malahan lapangan di desa sebelah jadi posko pengungsian dan pelabuhan dekat desa saya jadi pusat komando. Perasaan saya jadi sedikit lebih tenang.

Apalagi ibu saya sempet bilang kalo sudah packing beberapa barang, jadi siap mengungsi kapan saja. Cuman, tetep ada kecemasan yang tertinggal. Cemas bercampur takut. Takut kalau - kalau di hari itu adalah hari meletusnya gunung.

Tidur saya sepanjang malam itu tidak nyenyak. Tiap beberapa kali sekali saya tengok ke jendela dan melihat gunung agung, memastikan keadaannya. Masih belum tampak nyala - nyala api dari mulutnya.

Saya terus seperti itu hingga esok paginya.

Paginya, gunung Agung tak terlihat lagi. Awan tebal menutupinya. Dari media - media yang saya baca mengatakan gunung belum meletus sampai pagi itu.

Saya bangun agak siang. Ngumpulin nyawa sebentar, mandi, nyari makan, setelah itu baru pulang ke rumah. Rasanya bener - bener gak tenang, tapi keadaan gak memungkinkan untuk pulang lebih cepat sebelum hari itu. Terkendala urusan kantor dan pekerjaan. Mending bersama keluarga di daerah rawan bencana, daripada berada sedirian di tempat yang aman. Fyi, ibu saya gak mau diajak ke Denpasar karena ingin tetap bisa bekerja dan semasih daerah kami belum masuk zona bahaya.

Saya sangat penasaran banget melihat situasi di desa. Sekacau kaya yang terkesan di facebook kah?

Saya pacu motor lebih cepat. Banyak kendaraan dari arah berlawanan sedang menuju ke arah Denpasar. Mobil - mobil, pick up, dan truk membawa kasur dan perabotan rumah. Kanyanya itu milik warga yang hendak mengungsi. Melihat pemandangan ini makin bikin saya gak sabar sampai rumah.

Sekitar 1 jam perjalanan, akhirnya saya mulai masuk wilayah desa. Tidak banyak yang berbeda antara sebelum dan sesudah kejadian gunung Agung. Beberapa warga tampak duduk - duduk di warung pinggir jalan dan di dalam rumah. Tapi di hari biasa pun juga kaya gitu, biasanya mereka  duduk - duduk sambil minum - minum.

Dan rumah saya, tampak ibu masih beraktifitas kaya biasa. Tidak ada suasana mencekam sama sekali. Kemudian datang adik bersama pacarnya, Mereka juga baru datang dari Denpasar. Membuat suasana rumah makin ramai. Dan terakhir datang bapak. Lengkap sudah semua anggota keluarga, dan kami bersenda gurai riang gembira seperti biasa.

Ternyata sudah ada beberapa pengungsi di kampung saya. Mereka mengungsi secara mandiri, tidak menerima bantuan logistik dari pemerintah. Diantaranya adalah orang - orang yang saya kira sedang minum - minum di jalan ketika saya baru sampai desa.

Tetangga - tetangga yang biasa ke rumah nyari ibu untuk urusan pekerjaan pun mengatakan bahwa kehidupan desa tidak terlalu sangat berubah. Semua beraktifitas seperti biasa.

Kami beruntung daerah kami diluar radius bahaya yang ditetapkan pemerintah. Hanya gempa beberapa kali secara teratur terasa hingga ke rumah kami. Mulai sejak dini hari, hingga menjelang sore setiap 4 - 5 jam sekali. Saya ingat betul, hanya dua gempa yang bikin panik. Ketika pertama saat pagi ketika kami masih tertidur, dan sore ketika getarannya paling keras. Sisanya kami hadapi dengan biasa saja. Tanpa mukul kentongan dan teriak - teriak, bahkan kami tidak lari keluar rumah. Mungkin kaya gini rasanya jadi orang Jepang yang sering dikocok gempa.

Banyak keluarga yang tidak seberuntung warga di desa saya. Semoga musibah ini cepat berlalu, agar keadaan di seluruh Bali kembali normal. Gak tega lihat para pengungsi. Saya ngebayangin harus ninggalin babi saya di kampung sehari aja udah kepikiran banget kalo misal keluarga saya juga harus ikut mengungsi. Bukan karena takut ilang, tapi takut dia kelaparan dan akhirnya ribut minta dikasi makan padahal tuannya udah ngungsi jauh. Itu baru saya yang cuma punya 1 babi, gimana warga yang sudah mengungsi yang punya sapi sampe belasan. Betapa kacaunya perasaan mereka. :(

Btw, ada satu pelajaran yang saya ambil dari peristiwa ini. Saya tidak akan percaya kepanikan - kepanikan yang ada di facebook lagi. Apa yang terlihat di sosial media, belum tentu sama seperti keadaan aslinya.


2 bukan komentar (biasa):

Amin said...

Seperti media info yang lain, biasanya kalau info disebarkan tidak secara langsung, apalagi bagi yang suka mengemas info nampak wow pasti akan memanfaatkan mpmen ini.

#fatamorgana said...

Medsos sejatinya bukan utk ajang curhat

Post a comment

Jangan lupa cek twitter saya @tukangcolong
Dan channel YOUTUBE saya di
SINI