DIPAKSA NGAPALIN PANCA PRASETYA KOPRI, PADAHAL BUKAN PNS


Selasa itu saya dateng afak telat ke kantor. Sampai kantor apel sudah mau selesai, tinggal sembahyang bersama. Saya nunggu di parkiran. Pas semua sudah mulai sembahyang, saya mengendap-endap masuk ruangan.

Lima sampai 10 menit kemudian apelnya kelar. Ewi yang pertama masuk ke ruangan. Masuk - masuk dia langsung ngasi kabar buruk. Di apel selanjutnya PNS maupun kontrak yang telat hari itu diminta maju menyebutkan Panca Prasetya Kopri.

Hal ini langsung jadi tubir. Terutama soal saya yang notabene bukan PNS yang diminta mengucapkan janji sakral tersebut. Saya ngerti maksud pak kepala ngasi intruksi kaya gitu. Hanya ingin menekankan kata 'disiplin' dalam sila kelima.

Saya gak masalah dihukum seperti itu. Karena saya memang salah. Tapi hukuman ini lumayan berat. Pertama, Panca Prasetya Kopri itu susah banget. Ngapalin sendiri di ruangan sepi aja bibir bisa selip, apalagi di depan bapak - bapak dan ibu - ibu PNS.

Apalagi Panca Prasetya Kopri kata - katanya banyak, kalimatnya panjang, dan menjelimet. Saking banyaknya, kata pembuka sebelum masuk ke sila aja sudah susah. Sebentar, kepanjangan KOPRI aja sudah bikin rentan salah sebut. Saya masih biasa menyebut kepanjangan KOPRI menjadi Korps Pegawai NEGERI Republik Indonesia. Padahal ga isi negeri. Kebiasaan dengan kepanjangan PNS soalnya.

Sedangkan kata KOPRI harus disebut dalam bentuk kepanjangannya. Baik dari judul sampai di dalam sila - silanya.

Setelah judul yang sulit (karena ada kata KOPRI-nya). Kesulitan selanjutnya adalah kalimat pembuka.
"Kami anggota Korps Pegawai Republik Indonesia adalah insan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berjanji:"
Itu saja sudah panjang. Gak cocok disebut kalimat pembuka, tapi sila ke-nol!

Kesulitan pertama dalam kalimat pembuka ini adalah selalu salah menyebutkan dua suku kata awal dengan menyelipkan kata 'adalah' diantara keduanya menjadi 'kami adalah anggota'.

Kemudian suku kata selanjutnya 'adalah insan yang beriman dan bertaqwa'. Kata - kata 'adalah insan' berdampingan dan 'beriman' meningkatkan level kesulitan dalam pengucapan Panca Prasetya KOPRI. Saya sering selip. Kalo lagi blank, nyebutnya jadi 'adalah iman yang berinsan'.

Masuk ke sila pertama.
"Satu. Setia dan taat kepada negara kesatuan dan pemerintah republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang - Undang Dasar 1945"
Saya mengerti alasan kenapa ada kosakata 'negara kesatuan'. Maksudnya pasti kepanjangan dari NKRI. Tapi kalo maksudnya NKRI, kenapa musti diselipin kata 'pemerintah'??? Insecure banget ya pegawai gak setia dan taat sama pemerrintah? Bukankah kalo udah setia kepada NKRI, itu sudah termasuk dalam pemerintah??? Pemerintah dan negara kan satu kesatuan, ga perlu diperjelas lagi keleus.

Dan juga penambahan kalimat 'berdasarkan Pancasila dan Undang - Undang Dasar 1945". ga bisa sampai di kata 'Indonesia' langsung titik gitu? Jadi penasaran, gimana sejarah pembuatan janji ini. Pengen ngajak ngomong yang bikin. Kayanya susah banget hidupnya.

Sila kedua.
"Menjunjung tinggi kehormatan bangsa dan negara serta memegang teguh rahasia jabatan dan rahasia negara"
Kemungkinan salah urutan penyebutan kata dalam sila ini sangat besar. Antara kata 'bangsa' dan 'negara' serta 'rahasia jabatan' dengan 'rahasia negara'.

Sila ketiga. SILA TERGAMPANG.
"Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat di atas kepentingan pribadi dan golongan"
Meskipun gampang, kalo pas grogi atau ngeblank, tetep aja ada yang salah sebut atau tiba - tiba lupa. Saya bahkan bisa skip kata 'negara dan masyarakat' langsung menjadi 'Mengutamakan kepentingan pribadi dan golongan'. Kan parah.

Sama satu lagi, penggunaan kata 'negara' dalam sila ini terasa susah disebutkan. Lebih terbiasa mengucapkan 'bangsa'.
"Memelihara persatuan dan kesatuan bangsa serta kesetiakawanan koprs pegawai republik Indonesia"
Itu bunyi sila keempat. Setelah sila ketiga yang lumayan mudah, akibat terlena keringanan dari sila ketiga, sila keempat saya sering blank. Inget inti kalimatnya, tapi selalu lupa kata awalnya. Serta masalah lainnya, irama kalimat. Sampai sekarang saya belum menemukan irama yang pas untuk penyebutan sila ini.

Fiuh. Akhirnya.
"Menegakkan kejujuran, keadilan, dan disiplin, serta meningkatkan kesejahteraan dan profesionalisme."
Ini sila terakhir.Serng gak sabar pengen cepet menyelesaikan sila ini. Jadinya, karena terburu-buru, saya sering lupa kalimat setelah kata 'disiplin'. Padahal kalimat itu yang terpenting untuk pegawai egois seperti saya. 'Meningkatkan kesejahteraan."

Janji ini seakan dibuat biar serasi dengan citra birokrasi di negeri ini. Atau jangan - jangan birokrasi kita idektik dengan lelet dan alur terlalu panjang karena mengaplikasikan janji yang juga panjang ini??

Entahlah.

Yang pasti, sekarang setiap malam dan pagi saya selalu dihantui ketegangan. Cemas jika dipanggil. Tapi ada rasa ingin dipanggil, agar kalau sudah dipanggil maka penderitaan karena diliputi kekhawatiran ini segera hilang.

Tadi pagi harusnya ada yang dipanggil, tapi karena banyak yang dateng telat, ga jadi ada yang disuruh maju. Mungkin besok, atau besoknya lagi, atau lusa. Gitu terus sampe saya stres berkepanjangan.

Tapi ga mungkin saya mengajukan diri untuk maju. Soalnya saya belum PD apakah mampu menghapal dengan lancar. :p 



0 bukan komentar (biasa):

Post a comment

Jangan lupa cek twitter saya @tukangcolong
Dan channel YOUTUBE saya di
SINI