BURNT (2015)


Burnt berhasil memuaskan harapan saya dari sebuah film bertema kuliner. Mata saya dimanjakan oleh penampakan makanan - makanan enak, serta proses membuatnya yang sudah seperti melukis di atas kanvas.

Awalnya saya kira Burnt ini adalah sekuel, karena di awal diceritakan tokoh utama baru terbebas dari hukuman, lalu mulai menyatukan puing - puing kehidupannya kembali. Cuman setelah saya cari, ternyata Burnt adalah film tunggal. Steven Knight sebagai penulis cerita sukses menyampaikan masa masa lalu dengan baik melalui dialog - dialog antar tokoh, dan dari adegan - adegan yang dialami si tokoh utama. Meski tidak ada adegan flaskback ke masa lalu, saya bisa tahu kurang lebih apa yang terjadi di masa lalu pada film ini.

Saya ikut merasakan ketegangan yang terjadi di dapur di balik sebuah restoran. Saya jadi mengerti, dibalik makanan yang kita santap saat berkunjung ke tempat makan, ada keringat dari pembuatnya, ada tekanan mental yang dialami oleh crew, dan perjuangan untuk memberi sesuatu yang sempurna kepada pengunjung.


Saya yang mental lemah ini gak kebayang jika saya berada di posisi anggota tim chef dalam film tersebut, atau bahkan di dapur restoran seluruh dunia. Mereka harus cepat, mengingat pesanan datang dalam waktu singkat, belum lagi jika pesanan yang datang sangat banyak. Kalo saya ada disitu, mungkin saya sudah jantungan bahkan sebelum restorannya tutup di hari pertama saya bekerja.

Fakta mencengangkan saya dapat dari film ini. Ternyata, banyak dari kita underestimate kepada restoran-restoran cepat saji. Citra mereka dalam benak kita sudah terlanjur buruk karena kualitas kesehatan dalam kandungan makanannya. Padahal kalo dari dunia kuliner, restoran cepat saji memiliki satu kekuatan besar yang menjadi syarat sebuah restoran bisa dikatakan bagus.

Hal itu adalah: konsisten.

Baik dari rasa, takaran bumbu dan bahan makanan, ukuran dari masang - masing makanan yang disajikan.


Kalau menurut saya sih karena memang resto kayak mekdi atau kfc resep dan cetakan bahannya sudah template, makanya bisa konsisten dari segi rasa dan ukuran. Sedangkan resto - resto khususnya resto berbintang, semua ditata dan dibuat secara manual. Keahlian dan keterampilan koki sangat berpengaruh disini. Makanya mahal, karena ada effort yang sangat besar dalam prosesnya.

Satu lagi yang saya pelajari dari film ini adalah semua benda yang diletakkan di dalam piring pengunjung, bukan sekedar hiasan biar cantik semata. Semua bisa dimakan. Koki tidak akan meletakkan sesuatu yang tidak bisa dimakan di atas piring. Baik itu rerumputan, dedaunan, sampai bunga, semua layak dimakan. Dan rasanya enak! (kata filmnya)

Film ini sangat menarik. Bahkan saya sampai gak berasa pas asik nonton tiba - tiba sudah ending aja, saking terhanyutnya saya dalam tiap adegan - adegan yang ditampilkan. Serta hasil dari tangan dingin sutradara John Wells mengarahkan setiap adegan dan akting para pemainnya.




0 bukan komentar (biasa):

Post a comment

Jangan lupa cek twitter saya @tukangcolong
Dan channel YOUTUBE saya di
SINI