HOTEL MUMBAI (2019). GAK ADA KATA POSITIVE THINKING KEPADA TERORIS


Maunya saya tulis review ini di social media, cuman saya takut viral. Respon di sosmed itu kenceng banget. Cepet.

Facebook, twitter, apalagi instagram (yang isinya orang - orang bahagia selalu berpakaian bagus dan sering piknik tapi cara mereka komentar dan menanggapi sesuatu ga tercermin dari postingan mereka).

Karena film Hotel Mumbai ini SARA banget. Paling aman nulisnya disini. Orang - orang kan udah pada males banget ngeklik link, apalagi kalo judulnya gak bombastis.

Baik, mari kita mulai review-nya.


Kalo di Indonesia, tiap ada teroris, selalu ada yang bilang,"Jangan lihat agamanya, teroris tidak punya agama."

Tapi hal itu gak berlaku untuk film ini. Di film ini ditampilin kalo para teroris punya agama. Dijelasin teroris itu kaya gimana dan kenapa mereka milih jadi teroris.

Bahkan di salah satu dialog disindir tentang penyebab adanya teroris adalah keberadaan agama itu sendiri. Dialognya kaya gini: "Jangan doakan aku, karena doalah semua ini terjadi."

Di scene yang lain sang sutradara membuat scene yang bertolak belakang dengan adegan itu. Mungkin biar keliatan gak atheis - atheis banget.

Ditunjukin dalam scene itu dengan kekuatan doa juga seorang sandera bisa selamat dari ancaman teroris. Cuman, ya gitu, si teroris gak tega membunuh karena si sandera berdoa dengan doa yang sama dengan si teroris.


Eksposure yang berlebihan kepada kinerja staf hotel yang ditampilkan sangat disiplin dan profesional, cukup mengganggu.

Tapi wajar sih film ini menonjolkan hal itu, nama filmnya saja pakai kata 'hotel'. Anggep aja film ini disponsori secara gak langsung oleh hotelnya. Semacem bales budi. Ucapan terima kasih karena mau dijadiin film dan diwawancara selama riset pembuatan film. Ditanya -tanya dan harus mengenang kembali kejadian menyeramkan ini pasti sangat berat.

Karena hotelnya dalam film ini selaku korban, menunjukkan sisi hotel sebagai sosok yang amat baik (meski cerita ini diambil dari kisah nyata) juga dianggap perlu untuk menumbuhkan rasa simpati di hati penonton kepada para korban dan menambah rasa benci kepada para teroris.


Namanya film India, meski bukan dibuat oleh studio Bollywood, tetep ada scene nyanyi (minus menari). Tapi cuman satu kali. Itu pun yang nyanyi adalah si teroris pas ngejaga para sandera. Suara dan lagunya cukup ganggu, btw. Pas suasana tegang kok malah nyanyi, kan bikin mental sandera makin drop ya?

Tapi kalo yang nyanyi sekonyong - konyong adalah Shah Rukh Khan yang muncul entah darimana, filmnya malah makin surem sih.

Satu lagi nuansa Bollywood yang tidak lupa dimasukkan dalam film ini, bahkan jadi bagian paling penting, adalah polisi India datengnya ngaret banget!

Kirain citra polisi India yang selalu dateng setelah kejadiannya berakhir cuma settingan di film aja, taunya film yang dibuat dari kisah nyata kaya gini pun sama. Yang artinya pada kejadian 11 tahun lalu polisinya beneran dateng ketika peristiwa udah hampir berlangsung 12 jam. Orang - orang udah pada tewas.

Alesannya adalah peristiwa yang terjadi di Mumbai ini jaraknya jauh dari markas polisi khusus anti teror India yang lokasinya di ibukota.


2 bukan komentar (biasa):

pekanbola said...

serem

Nadia K. Putri said...

Astaga, kok serem ya filmnya :(

Post a comment

Jangan lupa cek twitter saya @tukangcolong
Dan channel YOUTUBE saya di
SINI