MASALAH MEMILIH JALAN HIDUP


Akhirnya tiga hari ini berlalu sudah. Kantor mengadakan bimbingan teknis (bimtek) tentang sistem jaminan mutu. Secara garis besarnya adalah tentang gimana memastikan lab menjamin hasil uji yang dikasi ke klien terjamin dan sampai lab berhasil terkareditasi (termasuk cara mendaftar dan syarat -syarat yang harus kantor penuhi).

Saya merasakan penderitaan peserta. Entah kenapa ruangan yang dipakai bimtek cepet banget bikin ngantuk. Untung saya peserta merangkap panitia, jadi ada kesempatan keluar ruangan dengan alesan mau nyiapin logistik acara.

Tugas saya di bimtek kali kedua ini sama dengan bimtek pertama beberapa bulan lalu. Tugas utama saya adalah pembuatan sertifikat. Sisanya bantu di asrod (tukang klik next slide persentasi), dokumentasi kegiatan, nganter konsumsi, bantu bersih - bersih dan cuci - cuci saat bimtek sudah selesai.

Sertifikat tidak bisa saya selesaikan sebelum bimtek dimulai. Nama - nama peserta dan biodata mereka harus saya pastikan benar sebelum dicetak. Jadi harus nungguin mereka hadir di hari pertama, dan mereka memeriksa sendiri biodata mereka ketika registrasi. Itu yang menyebabkan saya gak bisa ikut di setengah jadwal bimtek di hari pertama. Sekalinya hadir di bimtek, udah gak mood karena kelewat info- info penting di jadwal sebelumnya. :p

Bikin sertifikat memakan waktu lama soalnya nyetaknya satu - satu. Gak bisa kaya ngeprint biasa yang kertas kosong tinggal taruh, lalu print rangkap 30 sekaligus.

Printer di ruangan suka melahap 2 kertas selanjutnya, jadi kalo print halaman satu, kertas untuk halaman dua dan tiga ikut ketarik dan terkena cetak print juga. Kalo hal itu terjadi ketika saya nyetak sertifikat dengan kertas khusus, akan menyia - nyiakan banyak biaya tinta dan kertas. Jadi, satu sertifikat tercetak dulu, baru taruh kertas sertifikat kosongnya di printer, lalu cetak lagi untuk peserta selanjutnya. Gitu terus hingga peserta ke-28.

Daya seperti itu lagi di bimtek hari kedua. Saya lalu separuh jadwal bimtek dengan nyetak sertifikat dan merapikannya dengan memotong bagian - bagian yang tak terkena warna karena saya tidak menemukan ukuran kertas yang pas antara di komputer dengan kertas yang dipakai ngeprint.

Narsum minta foto bareng peserta di hari kedua karena pas itu peserta pake baju adat Bali

Kenapa ngeprint sertifikat sampai memakan waktu 2 hari?

Hari pertama saya nyetak bagian depan sertifikat, bagian belakang saya kosongkan dulu karena mau ngejar jadwal kepala dinas. Kepala dinas cuma ada di kantor hari itu saja, kamis dan jumat pak kadis ada tugas keluar dan gak ke kantor. Jadi saya kejar nyetak bagian yang perlu tanda tangan pak kadisnya. Halaman kedua yang berisi materi bimtek saya cetak di hari kedua.

Hari ketiga saya sudah bebas tugas dari tugas cetak sertifikat, tapi mood ikut bimtek sudah ga ada soalnya banyak materi yang sudah saya lewatkan. Hari terakhir usai ikut kelas ke lapangan untuk materi praktik sampling, saya habiskan dengan menggandakan buku harian kerja yang jumlahnya hingga 115 lembar.

Foto bareng di pinggir Sungai Korea, lokasi praktik sampling
Saya bermasalah dalam memilih jalan hidup yang cepat dan singkat untuk mencapai sebuah tujuan. Jalan yang saya pilih selalu yang panjang dan terjal. Termasuk dalam menggandakan buku harian kerja.

Feeling saya sudah gak enak ketika atasan nyuruh menggandakan buku harian kerja saya. Selain diserahkan ke bagian kepegawaian, beliau juga minta untuk arsip. Menggandakan buku kerja jadi hal yang tidak mudah karena saya nyetaknya pakai kertas bekas untuk menghemat dan ramah lingkungan. Kualitas kertasnya ada yang bener - bener sudah rusak. Lusuh, lecek, hingga sobek. Dan saya berencana menggandakannya dengan kertas bekas juga. Sengsaranya dobel.

Bener - bener menguras kesabaran. Gak ada itu katanya Dilan rindu itu berat. Cobain deh moto copy 115 kertas rusak ke kertas yang rusak juga.

Beberapa kali temen yang ada di ruang bimtek masuk ke ruangan tempat saya moto copy, termasuk atasan. Atasan cuma ngeliatin dari jauh, mungkin mereka mengira saya nyetak untuk keperluan bimtek. Beberapa teman tahu saya nyetak 'kerjaan pribadi yang gak ada hubungannya dengan bimtek" tapi mereka gak berkomentar.

Salting sih, tapi saya sudah bodo amat. Udah kaya telat masuk bioskop dan filmnya udah jalan setengahnya, mending gak ruangan.

Tapi setiap harinya saya selalu masuk ruangan. Bantuin moto, jadi asrod, bahkan ikut menyimak dan bertanya ke narasumber. Walaupun pertanyaan saya dianggap pertanyaan yang tidak perlu dipertanyakan karena sudah dijelasin sebelumnya ketika saya belum ada di ruangan.

Kesel banget saya dikatain kaya gitu. Mendingan nanya kaya saya meski pertanyaan saya gak bermutu tapi bikin yang lain ikut bertanya dan ruangan jadi ramai, temen - temen jadi gak ngantuk, plus narsum jadi ngerasa diapresiasi.

HARI TERAKHIR!!!

0 bukan komentar (biasa):

Post a comment

Jangan lupa cek twitter saya @tukangcolong
Dan channel YOUTUBE saya di
SINI