Halo, Nak.


Nak, kelak ketika kau lahir, kau akan punya banyak teman seangkatan. Banyak temen bapak dan ibumu juga melahirkan anaknya di tahun ini dan tahun depan. Itu artinya, seharusnya kalian masuk sekolah di tahun ajaran yang sama. Ini bisa baik bagi kami, orang tuamu. Kami akan sering bertemu lalu asik berbicara soal anak - anak yang seumuran, dari sejak kamu lahir hingga kalian sekolah.

Tapi ini bisa berarti buruk untukmu. Mungkin tidak semua anak yang lahir tahun ini akan jadi temanmu. Kelak sainganmu mencari kerja akan amat banyak (sorry bapak ngomongnya kejauhan).

Kamu juga kelak akan dibanding - bandingkan dengan banyak anak seumuranmu. Kalo dibandingin dengan anak yang selisih umurnya terlalu tinggi dari umurnya, kejauhan

Yang kuat ya nak, kita bertiga akan berjuang bersama. Berjuang menahan nyinyiran orang. Berjuang membuktikan kepada orang - orang yang julid tentang kita.

Terima kasih, Nak. Kamu sudah amat kuat. Maafkan kami yang ceroboh jadi orang tuamu. Kadang kami tidak berhati - hati. Tidak jarang juga kami abai menjagamu. Maafkan kami. Kami sedang berjuang dan berusaha untuk kamu.

Meski kamu belum lahir, kamu sudah terasa sudah hadir di tengah - tengah kami bahkan sejak ibumu pertama kali bilang ke bapak akan kehadiranmu. Keajaiban - keajaiban membuat hadirmu terasa nyata.

Kamu adalah bayi, anak, yang murah hati dan baik hati. Kamu tidak pernah menyulitkan ibumu. Tidak pernah menghambat pekerjaan ibumu. Bahkan ketika ibumu harus lembur hingga malam, kamu tetap anteng di dalam. Kebaikanmu bahkan tidak saja kau berikan kepada kami, orang tuamu. Tapi juga semua orang di dekatmu. :)

Kami sangat menyayangimu nak. Meski kami belum menjadi orang tua yang sempurna untukmu. Selalu ceriahlah anakku. Bergeraklah yang lincah di dalam perut ibumu, nak (ibumu sangat panik ketika pernah kamu memilih untuk tiduran saja bermalas - malasan sepanjang hari gak gerak sedikit pun). Tendang yang keras, pukul yang banyak. Mari kita bercanda meski kulit masih membatasi kita untuk bersama.

Maafkan kami lagi, Nak. Terutama bapakmu yang tidak berguna ini. Sampai bapak menikah dan punya dirimu, bapak masih tidak bisa memberi nafkah yang cukup untuk kalian. Banyak barang yang tidak mampu Bapak beli. Beberapa barang harus minta atau pinjam saudara dan keluarga. Ibumu masih harus ikut bekerja untuk kita. Ibumu terpaksa harus menahan keinginannya memiliki barang ini dan itu.

Pekerjaan bapak tidak seperti bapak - bapak lain yang bisa membelikan istri mereka rumah, bisa beli mobil, dan gak harus memaksa keluarga mereka hidup dalam kehematan.

Syukurnya menikah dengan ibumu, Bapak selalu merasa cukup. Dibalik kekurangan yang kami miliki, ibumu sangat menerima Bapak apa adanya, selalu bersyukur dengan apapun yang kami miliki, dari apapun yang Bapak beri ibumu selalu terima dengan senyum bahagia seakan itu semua barang termahal di dunia. Sifat ibumu membuat kami selalu merasa cukup.


1 bukan komentar (biasa):

Dhidhit said...

Menanti kelahiran....

Post a Comment

Jangan lupa cek twitter saya @tukangcolong
Dan channel YOUTUBE saya di
SINI