MEMBERI SUMBANGAN DENGAN WAJAH YANG MARAH


Di Bali, sehabis memasak, kami akan melakukan Yadnya Sesa (ngejot). Salah satu jenis yadnya (sedekah/ pengorbanan suci yang tulus ikhlas) berupa nasi dan lauk ditata di atas potongan - potongan kecil kertas atau daun yang bersih dan baru. Lalu kami haturkan ke sanggah, dan tempat - tempat lainnya. Seperti di pekarangan, sumber air, kompor, dll. Selengkapnya soal Yadnya Sesa bisa dibaca di SINI.

Waktu masih sekolah, saya sering dapat tugas ngejot. Sekarang masih saya lakukan ketika pas lagi ada di rumah jika memang belum ada yang melakukannya.

Hal yang ditanamkan ibu kepada anggota keluarga yang lain saat ngejot adalah jangan melakukannya dalam keadaan hati yang marah. Namanya anak kecil, pasti sering ngerasa males. Atau pas puber, mulai pengen bebas dan gak suka diatur - atur.

Gak jarang ketika dulu ibu nyuruh saya ngejot, saya lakukan dengan perasaan terpaksa dan marah. Gak ikhlas pokoknya. Hanya saja karena takut karma, karma melawan ibu dan karma karena lalai melakukan kewajiban agama, saya tetap ngejot.

Ajaibnya, kecelakaan selalu saja terjadi kalo saya ngejotnya tidak ikhlas. Persembahannya tumpah, saya kesandung, kesenggol, bahkan sampai terjatuh.

Entah sugesti, atau secara spiritual memang ada pantangannya, sampe sekarang hal ini selalu tertanam di benak saya. Jika ingin bersedekah atau berbuat baik, harus dari pikiran yang damai dan hati yang ikhlas. Hal yang baik, jika disampaikan dengan gak baik, hasilnya gak akan baik.

Saya ngomongin ngejot karena ada kaitannya dengan bencana aktifnya gunung Agung.

Para relawan dan donatur tersinggung dengan foto dan kabar yang beredar yang mengatakan selfie dan dokumentasi saat melakukan kegiatan kemanusiaan menolong pengungsi adalah tindakan cari muka dan pencitraan.

Sebenarnya para relawan dan donatur tidak perlu gusar dengan kabar ini. Tetap lakukan apa yang sedang dan akan kalian lakukan. Gak usah dengarkan kata - kata orang - orang di samping. Setidaknya kalian sudah melakukan tindakan. Sumbangan kita sangatlah berarti. Sumbangan yang direkam kamera lebih baik dibanding tidak ada sumbangan sama sekali.

Tersinggung karena dikatain pencitraan itu wajar. Sangat manusiawi. Udah capek - capek, bukannya dapet apresiasi, malah seakan gak dihargai.

Cara agar kalian tidak sakit hati lagi dikatain pencitraan, kalo emang kalian gak bisa cuek akan hal ini, dari awal kalian harus menurunkan ekpektasi. Jangan menghayal yang indah - indah dulu. Jangan beranggapan bahwa SEMUA orang akan suka dengan apa yang kalian lakukan dan menerima dengan riang gembira aktivitas yang kalian lakukan.

Segala halnya pasti ada pro dan kontra. Akan selalu ada yang gak suka melihat orang lain menikmati hidup. Selalu akan ada yang mendukung dan ada juga yang mengkritik.

Hadapi dengan biasa aja.

Jika kalian masih juga patah hati, berati mungkin benar, kalian lakukan aksi kemanusiaan hanya demi sebuah pengakuan dari orang lain. ;)

Mungkin orang yang gak suka kalian selfie itu adalah orang yang memegang pepatah jaman dulu: bila tangan kanan memberi, tangan kanan tak perlu tahu.

Kalo sudah begitu, biarin aja. Katakan pada diri sendiri,"Bukan urusan gue.. bukan urusan gue.. bukan urusan gue.."

Karena apapun pendapat mereka, memang bukan urusan kalian. Sama seperti apa yang kalian lakukan, bukan urusan mereka. Urusan kalian adalah mengurusi nasib para pengungsi. Orang lain bebas berpendapat, tapi kita juga bebas untuk tidak mendengar.

Jangan sampai kalian menolong pengungsi dengan muka yang masam menahan emosi. Jangan sampai kalian menolong pengungsi, dengan muka yang marah.


2 bukan komentar (biasa):

#fatamorgana said...

Kalau nyumbang sambil marah-marah hitungan nya nyumbang nya dapat pahalanya, marahnya dapat dosa. Tinggal persentase nyumbang nya yang Besar atau marahnya yang besar. Jadi hanya Tuhan yg tahu. Baiknya suh nyumbang sambil senyum jadinya cakep.

mariana said...

aduh kenapa kaya gitu

Post a comment

Jangan lupa cek twitter saya @tukangcolong
Dan channel YOUTUBE saya di
SINI